Saturday, 20 May 2017

Laptop ACER Bagi Traveler

Halloha Sobat Piknik, sudah piknik kemana saja weekend yang lalu? Pastinya selalu bahagia ‘kan apalagi jika bisa piknik dan pekerjaan tetap terhandle. Kebutuhan saat mau piknik tak hanya sekedar uang saku dan cemilan buat si kecil gaes, keluar kota pun saya selalu bawa laptop.  Agar pekerjaan terselesaikan, kadang  weekend pun masih ada beberapa job yang mesti dikerjakan ((aihh sibuk, banyak job nih)). LOL
Mas Bojo sering banget protes, ngapain sih kemana-mana bawa laptop. Staycation di hotel juga bawa, mau nginep di tempat Simbah juga bawa. Bikin bawaan makin berat. Yah, bawa diri aja dah berat ((liriks timbangan)). Lha gimana lagi Sobat Piknik, saya ngga bisa hidup tanpa cintamu eh tanpa laptop kesayangan, eike nanti sedih kalau sehari saja ngga pegang laptop.
Oke, saya butuh laptop kapan dan dimanapun jadi saya butuh laptop yang spesifikasinya  bagus tapi ringan dan enak buat diajak mobile. Pengennya yang bisa dicopot layarnya dan bisa dijadiin tablet tentunya yang harganya murah.  Yah, saya suka yang murah tapi ngga murahan lho.
Acer One 10, Laptop Murah yang Nggak Murahan
Oke, sembari menunggu tunjangan kinerja dari kantor cair mari hunting laptop dengan harga under 5 jeti dan bisa dijadiin tablet. Ketemulah di situs jual beli online mataharimall.com.
Kita simak spesifikasinya dulu ya Sobat Piknik, laptop Acer One 10 adalah sebuah Notebook yang bisa digunakan sebagai tablet, produk ini sudah dirilis sejak januari 2015 bahkan produk ini banyak digemari user sehingga menjadi trend di awal tahun 2015 ini. Ah, kemana saja saya selama ini kok ngga tahu ada Acer One 10 ini, saya kan ngga perlu bawa laptop lama yang beraaaaat itu.
Design Acer One 10
Acer One 10 memiliki desain unik dengan ketebalan yang tidak terlalu lebar serta memudahkan anda dalam membawa tablet tersebut. Acer One 10 medukung adanya ukuran layar 10.1 inch serta terdapat resolusi 1280 x 800 pixel dengan layar sentuh penuh. Tablet Acer One 10 bisa dinamakan sebagai notebook karena memiliki keyboard langsung untuk memudahkan kita saat mau mengetik dengan 10 jari. Kalau Cuma sekedar tablet saya punya sih, tapi kalau mau mengetik banyak bakal repot lah. Kalau Acer One 10 kan dilengkapi keyoboard, jadi membantu banget. Acer One 10 didukung dengan Dock Keyboard Magnetic Hynge, keyboard menggunakan magnet yang sudah di desain serapi mungkin oleh pihak Acer.
Koneksi Cepat dengan Wifi
Tablet Acer One 10 mendukung adanya koneksi Wi-Fi untuk memudahkan dalam browsing maupun komunikasi via sosmed atau sosial media. Ngga masalah sih bagi saya karena saya selalu menggunakan hotspot dari HP atau MIFI. Acer One 10 dilengkapi dengan komponen transfer data yaitu bluetooth dan MicroUSB yang mampu mengirim data dari satu gadget ke gadget lainnya. Tablet Acer One 10 sudah mendukung sistem operasi versi terbaru yaitu Windows 8.1.
Kamera dan Memori Internal
Kamera utama Acer One 10 mendukung resolusi 2MP tapi tidak memiliki LED Flash yang mampu memberikan hasil berkualitas tersebut. Tablet Acer One 10 juga terdapat kamera depan yang beresolusi 0.3MP atau setara dengan VGA. Di samping itu tablet Acer One 10 memiliki memori internal berkapasitas 32GB serta 2GB RAM untuk penyimpanan sementara, serta HDD mencapai kapasitas 500GB. Tablet-notebook Acer One 10 memang memberikan keunggulan dari berbagai segi yang sudah terdapat kelebihan Acer One 10.
Kelebihan Acer One 10
  • Layar 10.1 inch, 1280 x 800 pixels, capacitive touchscreen
  • Dock Keyboard Magnetic Hynge
  • Wi-Fi 802.11 b/g/b
  • Bluetooth v4.0
  • microUSB v2.0, port HDMI
  • Windows 8.1 Single Language with Bing upgradeable Windows 10
  • Office 365
  • Primary camera 2 MP 1600 x 1200 pixel
  • Kamera depan memiliki resolusi 0.3MP
  • Chipset Intel Atom Z373F
  • Prosesor Quad-core 1.33 GHz
  • RAM 2 GB
  • HDD 500 GB
  • Internal memory 32 GB
  • Battery 6000 mAh
Nah, saya sudah menemukan laptop Acer murah yang bakal menemani saya piknik kemanapun. So, ngga ada alasan untuk ngga produktif bahkan disaat liburan sekalipun.

Monday, 15 May 2017

Keseruan #FamTripBlogger2017 di Kota Semarang : Jelajah Desa Wisata Hingga Wisata Ekstrim Trabas



Jogja masih gelap ketika mobil yang saya tumpangi melaju menuju kota Semarang. Tepat pukul 4 dini hari, saya meninggalkan Jogja untuk mengikuti acara #FamTrip2017 yang diadakan oleh Dinas Pariwisata Kota Semarang dan Badan Promosi Pariwisata Kota Semarang (BP2PKS). Saya sudah tak sabar menanti keseruan #FamTrip2017 yang pastinya bakal rame karena diikuti 23 travel blogger dari berbagai kota dan 2 blogger dari Malaysia.


Satu persatu peserta dijemput oleh pihak penyelenggara, ada yang dari bandara, stasiun hingga pool agen travel kayak saya, kemudian kami sarapan di Soto Pak Man yang femes di Semarang. Ehm, cucok banget gaes. 4 jam duduk di dalam mobil membuat tubuh kaku, kayaknya perlu dilemesin pake Soto. ((lhoh apa hubungannya)). Lol

Soto ayam, tempe goreng dan sate uritan membuat  pagiku lebih semangat


Bagi orang Jogja dan Jateng, soto itu makanan yang paling diminati sebagai menu sarapan, berkuah, panas, seger, ditambah sambal dan kecap. Badan lemes habis perjalanan jauh langsung berasa dicharge gaes.  Nggak salah pilihan dari panitia, soto Pak Man memang JOS. 

Urusan perut selesai begitupun sesi cipika cipiki ama temen blogger,  kami harus segera "bekerja" keliling kota Semarang dan mengeksplore kekayaan desa wisata di Kota Semarang. Hari pertama ( 5 Mei 2017) kami mengunjungi Gua Kreo, Bendungan Jatibarang, Desa Wisata Jatirejo dan menghadiri perayaan Semarak Gempita Orchestra di Balai Kota Semarang.


Gua Kreo, Legenda Monyet Penjaga dan Sunan Kalijaga




Lokasi pertama yang kami kunjungi yaitu Gua Kreo yang berada dioa Kreo, Kandri, Gunung Pati, Kota Semarang. Lokasinya tidak terlalu jauh dari kota Semarang, sekitar setengah jam perjalanan. Obyek Wisata Goa Kreo terkenal akan monyetnya yang cukup banyak, keberadaan  kera itu tak lepas dari sebuah legenda lawas.

Goa Kreo dipercaya sebagai petilasan Sunan Kalijaga saat mencari kayu jati untuk membangun Masjid Agung Demak. Menurut legenda Sunan Kalijaga bertemu dengan sekawanan kera yang kemudian disuruh menjaga kayu jati tersebut.Kata "Kreo" berasal dari kata "Mangreho" yang berarti peliharalah atau jagalah. 




Turun dari bus kami disambut puluhan kera, mereka asyik menatap kami seolah mereka berkata "kok mirip ya" LOL. Kera-kera itu sudah terbiasa dengan manusia dan sama sekali tidak mengganggu pengunjung, kecuali kamu membawa makanan yang sangat mencolok dan itu menarik perhatian mereka.

Untuk mencegah para kera merebut makanan dan sekaligus memberi hiburan bagi pengunjung, setiap weekend atau hari libur nasional di Gua Kreo diadakan Panjat Pinang khusus untuk para kera. Wah, baru sekali ini lihat panjat pinang yang diikuti para kera, pastinya seru banget gaes.





Bambu sebagai pengganti pohon pinang telah berdiri dengan puluhan makanan kesukaan kera yang bergantung di bambu kecil yang melintang dan di tali. Ada jagung, pisang, bahkan ada minuman berwarna seperti sirup.




Satu persatu kera menguji peruntungan mereka dengan meniti tali dan memanjat bambu. Semula hanya beberapa kera yang naik, hingga lama kelamaan mereka saling berebut dan semakin banyak kera yang berebut makanan dengan berkompetisi memanjat bambu.




Puas menyaksikan para kera memanjat bambu, kami beranjak menuju Gua Kreo di  bukit Kreo yang berada di tepi Bendungan Jatibarang. Jembatan dengan lengkungan besi berwarna merah terlihat dari kejauhan. Puluhan anak tangga bersiap menyambut kami. ((siapkan energi)).




Langit siang itu terlihat sangat cantik. Biru dan syahdu ((halah)). Sayang tak ada kamu disini ((gombal)). Ehm, jembatan di Gua Kreo cakep banget lho gaes, kayaknya cucok deh buat foto prewedd. Kalau yang udah laku foto pasca wedding juga boleh ajah kok.






Gua Kreo berada di dinding bukit berbatu, disana ada lorong yang konon digunakan untuk bertapa Sunan Kalijogo. Kami tak berhenti disitu saja, tapi terus menaiki bukit lewat jalan setapak berbatu dna penuh dengan akar pohon.






Ehm, menaiki bukit di siang hari bolong dan tanpa membawa air minum cukup menguras tenaga. Gembrobyos gaes. Umur memang tidak bisa ditipu, naik bukit kecil ajah daku udah ngos-ngossan. Tapi, sampai di atas rasa lelah terbayar dengan melihat  batu-batu gaib. Konon, batu-batu kecil itu dulunya ada di muara sungai dekat bendungan. Banyak orang yang meninggal karena tenggelam ataupun kecelakaan seperti terpeleset.  Hingga suatu waktu ada warga yang bermimpi jika batu-batu kecil itu "minta" dipindah ke atas bukit karena dulunya berada di sana. Tapi, cara membawa membawa batu itu cukup unik. Yaitu digendong memakai selendang layaknya menggendong bayi.


Satu persatu batu dibawa ke atas dan sejak itu jarang terjadi lagi kecelakaan di sungai tersebut. Walaualam ya gaes.





Makan Siang di Tepian Bendungan Jatibarang

Alarm di perut saya mulai berbunyi, ku tengok jam  di pergelangan tangan dan menunjukkan pukul satu siang. Beberapa teman sudah selesai menunaikan sholat Jumat dan kami harus segera kembali ke bus untuk menuju lokasi makan siang. Masih disekitaran Bendungan Jatibarang, di sisi lain bendungan.




Tak sampai seperempat jam rupanya kami sudah  sampai di Dermaga  Waduk Jatibarang. Ikan bakar berukuran jumbo sudah tersedia di depan mata. Masyarakat di desa wisata sudah berbaik hati menyiapkan makan siang untuk kami. Yang paling seger ada minuman es tape dengan beberapa varian rasa, strawbery dan melon.




Selain menikmati kuliner ikan bakar, pengunjung dapat menikmati waduk Jatibarang dengan cara lain, yaitu naik speedboat. Beberapa speedboat sudah  sudah nongkrong manis di tepian dermaga. Saya pengen banget naek, tapi waktu tidak memungkinkan karena kami harus segera mengunjungi desa wisata  Jatirejo.




Desa Wisata Jatirejo, Sentra Penghasil Kolang-Kaling




Waduk Jatibarang di kelilingi oleh beberapa desa salah satunya desa Jatirejo. Masyarakat di desa Jatirejo begitu kreatif, mereka menata sebuah selokan menjadi tempat duduk dari bambu yang etnik dan sangat menarik. Sudut desa ditata hingga menyerupai taman. Tak hanya itu, masyarakat desa Jatirejo juga memiliki warung hidup, mereka membudidayakan tanaman obat dan dikelola agar dapat meningkatkan taraf ekonomi masyarakat.




Es kolang-kaling spesial dengan serutan kelapa muda menjadi "welcome drink" kami. Suguhan cemilan ala desa benar-benar mengobati rasa kangen. Dari ubi goreng, pisang rebus, hingga semacam bakwan dengan isian nangka. Wah, unik banget gaes, biasanya nangka muda dimasak dan dibikin gudeg ini digoreng.





Yang spesial dari Desa Jatirejo adalah kolang-kaling, desa ini merupakan produsen kolang kaling terbesar di Jawa Tengah. Kolang-kaling sendiri berasal dari pohon aren yang tumbuh ditepian waduk dan tidak bisa tumbuh disembarang tempat.




Proses pengolahan kolang-kaling cukup memakan waktu, dari direbus kemudian dikupas dan direndam kembali selama 3 hari, dipipihkan lalu direndam lagi. Ada tiga simbah yang dengan terampil memipihkan kolang-kaling, kata pemilik usaha ini, tak semua orang bisa memipihkan kolang-kaling  dengan pas. Butuh ketrampilan khusus dan teknik "perasa". Tak semua kolang-kaling bisa ditreatment sama. Ada yang cukup sekali, ada pula yang harus beberapa kali dipipihkan agar bisa tipis.



Menjajal Olahraga Ekstrim  Trabas




Nah ini yang paling saya tunggu gaes, wisata esktrim naik trail dari desa menuju tepi waduk Jatibarang. Saya mencoba satu trail, dan jalan di track lurus sih berani tapi nyali saya belum berani diuji kalau di jalan terjal berliku gaes. 

Beberapa trail sudah disiapkan dan kami diajak untuk menaiki trail masuk ke hutan kecil dipinggiran desa. Track menantang siap menghadang, jika kamu hobi ngetrail boleh dah cobain track di desa Jatirejo. Atau kalau cuma mau bonceng juga bisa, lebih aman. Hahahha.



Naik trail itu bikin keringetan gaes, body ngga lelah sih tapi hati yang ketar ketir takut jatuh dan kita seperti naik trampolin, dan diguncang-guncang karena jalan terjal dan licin. Ehm, butuh keahlian khusus untuk bisa menyelesaikan track tanpa terjatuh.

Badan penuh keringat dan muka kucel tapi hati hepi banget, seharian bisa berhaha-hihi bareng temen blogger yang kocak, lihat kera panjat pinang, menyaksikan proses pengolahan kolang-kaling, amakn ikan bakar yang lezat dan diakhiri dengan petualangan trabas yang cadas. 

Kota Semarang yang selama ini saya tahu hanya dari bandeng presto, gemerlap kota hingga panasnya tepian pantai ternyata menyimpan obyek wisata yang sangat menarik. Keseruan #FamTrip2017 benar-benar membekas, saya tak lagi bingung kemana harus mengajak duo anak lanang piknik atau memilihkan destinasi wisata bagi teman kantor di akhir tahun nanti. Kota Semarang menyimpan banyak potensi wisata karena masyarakat yang sadar wisata dan mau mengembangkan diri. 

Ehm, abaikan muka saya yang udah amburadul itu ya gaes, karena setelah itu saya harus balik ke hotel dan menyaksikan  pagelaran musik orkestra di balai kota Semarang. Ulangtahun ke 470 kota Semarang benar-benar di rayakan dengan meriah.  Seperti apa kemegahan pagelaran musik di balaikota, simak cerita piknik selanjutnya.


Jangan lupa piknik, biar nggak panik ya gaes,



Thursday, 11 May 2017

Staycation Dadakan di Best Western Premiere


Tawaran vocer hotel dengan harga nggak sampai setengah dari harga resmi seketika menggoda iman. Ehm, iman sih sebenernya kuat gaes, tapi imron eike yang sulit dikendalikan. Tapi yah, gimana lagi hasrat buat staycation ngga bisa dibendung.

Langsung dah "Berb, udah aku transfer yaak, ntar vocernya sore aku ambil yaaa"


***



Langit temaram menemani perjalanan kami berempat dari Jogja menuju hotel Best Western Premiere Solo Baru. Rute paling cepat dari Jogja menuju Solo Baru lewat Delanggu kemudian sampai di pertigaan Pakis belok kanan ke arah Baki.

Perjalanan terasa begitu lambat karena langit mulai gelap begitu memasuki Pakis, jalan aspal yang dulu mulus entah sejak kapan berlubang dan bergelombang bagai ampyang. Ah, jalan alternatif ini benar-benar menguras tenaga pak sopir. Lubang jalannya gede-gede macam saya gaes. Belum ditambah rengekan duo anak lanang.

"Buk, kok ngga nyampe-nyampe sih"

"Buk, masih jauh ya hotelnya?"

"Udah, kalaian bobok aja atau ngemil Sari Roti yaa" Si Ibuk mengalihkan perhatian


***

Lokasi Hotel Best Western Premiere  yang Strategis





Selepas adzan Isya kendaraan kami memasuki Solo Baru, menemukan hotel Best Western Premiere tidaklah sulit karena hotel ini berada di jalan utama Solo Baru, tepatnya di Jl. Ir. Soekarno, Madegondo,Grogol, Sukoharjo. Selain lokasinya strategis di pusat kawasan Solo Baru, hotel ini berdekatan dengan Hartono Mall dan The Park. Di sebrang hotel juga ada pusat kuliner yang super lengkap. Urusan ngemall tinggal jalan kaki gaes. 




Sementara Mas Bojo memarkir mobil, saya  dan anak-anak check in dulu di lobby. Tanpa menunggu lama proses check in selesai. Sebelumnya teman saya si pemilik memang sudah menelpon hotel dan reservasi untuk hari itu, sehingga saya tinggal ngasih vocer ajah.

Suasana hotel begitu ramai, saya beberapa kali berpapasan dengan pengunjung abg dengan dress code putih, rupanya ada birthday party. Ehm, anak sekarang ya ngerayain ulangtahun ajah di hotel berbintang coy. Jaman eike paling makan lele bakar di pemancingan. Lol



Seperti biasa, kamar di lantai tertinggi menjadi pilihan saya, dan smoking room. Begitu  mas bojo naik ke lobby, kami berempat cuss ke kamar di lantai 15. Duo anak lanang berlarian menuju kamar, mereka udah nggak sabar pengen lompat-lompat di kasur dan menikmati kamar yang dingin. Hahaha. Maklum lah gaes, saat staycation ginilah mereka bisa berdingin-dingin ria dibawah guyuran air conditioner.



Kamar seluas 30 m2 nampak begitu bersih, hingga disudut sudut dinding. Design interior bernuansa pastel membawa kehangatan tersendiri. Saya suka kamar dengan tampilan modern seperti ini, bikin betah di dalam kamar.  

Kaca toilet yang tembus pandang menarik perhatian saya. Biasanya kaca toilet dilapisi sticker kaca dan burem gitu, ini kok kacanya bening. Kemudian saya cek, ternyata ada tirai yang bisa diturunkan untuk menutupi kaca. Bayangin ajah kalau ngga ada tirai, mandi dan semrawang gaes. Lol





Sementara duo anak lanang ngumpet dilemari dan sesekali loncat-loncat di bed. Saya melakukan sesi pemotretan dulu, tanpa fotografer tentunya. Karena Mas Bojo males banget kalau disuruh motoin. (((argh))) jadi keberadaan tripod amat sangat saya butuhkan.




Deket Pusat Kuliner

Tak terasa malam semakin larut dan perut kami keroncongan. Kami memutuskan untuk turun dan keluar cari makan di deket hotel saja. Biasanya di pinggir jalan banyak warung makan ataupun lesehan, hingga kami tak perlu bawa kendaraan lagi. 



Sesampai di depan hotel pandangan saya berkeliling mencari rumah makan atau lesehan. Keramaian di sebrang hotel seketika menjadi daya magnet tersendiri. Apalagi ada tulisan food kuliner 24 jam. Kami langsung menyebrang dan makan malam disana.



Perut kenyang kami balik ke hotel. Pengennya segera tidur, tapi baterai duo anak lanang kok ngga habis-habis. Sampai jam 11 malem mereka masih muter-muter dikamar, ngumpet di lemari dan terakhir makan pop mi bareng emaknya. 



Lho kok bawa pop mi? Eh, ini bukan sponsored post lho ya, saat keluar kota saya memang sering bawa pop mie buat jaga-jaga kalau ngga ada makanan yang cocok. Entahlak, menikmati pop mie sambil ngeliat kerlip lampu dari lantai 17 itu yummy banget. Tapi jangan sering-sering yaaa gaes. Sebulan sekali ajah. Boleh kan.




Menu Breakfast Super Lengkap



Sebagai hotel berbintang 4 hotel Best Western Premiere menyajikan menu sarapan yang super lengkap gaes. Perlu disebutin nggak? Menu utama nasi, mie, ikan, ayam goreng, aneka cake, bubur ayam, nasi liwet, sushi, dimsum sampai crepes.


Dari semua menu, yang paling uenak itu dimsum ama sushi gaes. Dimsumnya empuk, ikannya terasa dan nggak amis. Sushinya juga mantab dah. Nggak nyesel nginep di Best Western Premiere Solo Baru. Tapi ya gitu, nginep sampai hotel berbintang 10 pun, duo anak lanang menu sarapannya kalau ngga omelete, telur mata sapi ama donut. Its enough. 






Kolam Renang Kekinian




After breakfast paling enak ya berenang. Kami beranjak dari resto menuju  kolam renang di lantai 3 kalau ngga salah ya. Saya sih dah siap baju renang, tapi sampai di pool ternyata udah ramai banget. Duo anak lanang ogah berenang kalau kolamnya ramai gitu. Salah saya juga sih, biasanya setelah bangun pagi kami langsung berenang, mumpung kolam belum ramai. 




Sedih sih gagal berenang, saya mencoba ngerayu duo anak lanang kalau saya nyemplung sebentar n cuma mau foto ajah, hahaha. Foto ala-ala di tepian kolam renang kan lumayan buat post di Instagram. Mumpung kolam renangnya kece, ala-ala di rooftop gitu.




Kecewa sih boleh, tapi eike harus move on gaes. Gagal poto-poto di kolam renang, lokasi pemotretan pindah di lorong kamar saja.  Mumpung mas bojo mau motretin, jarang banget doi mau dimintain tolong gaes, kayaknya eike butuh asisten nih. Lol

Fasilitas Lengkap







Best Western Premiere tak hanya punya kolam renang yang cantik tapi punya fasilitas lengkap selayaknya hotel bintang 4. Dari ruang meeting yang muat puluhan tamu, ruang fitness, spa hingga cafe n bar di rooftop.

Sobat Piknik, sebaiknya sebelum staycation kita memang sudah bikin ittinerary jauh-jauh hari. Jangan dadakan kayak saya. Pelajari dulu fasilitas hotel apa saja dan ketika sampai di hotel mau ngapain saja udah ada schedulenya. Kalau dadakan ya kayak saya ini, gagal berenang.

Refreshing, itu penting gaes, duitnya jangan disimpen mulu atau punya mindset kalau yang boleh nginep hotel itu cuma orang kaya. Sesekali boleh kok menikmati hasil kerja dan berleha-leha di akhir minggu.

Staycation di Best Western Premiere bisa jadi pilihan. Di jamin rasa penat hilang. Atau kalau lagi ada acara dan butuh tempat menginap ya di sini saja. Udah baca  kan ulasan  saya tentang fasilitas komplit di Best Western Premiere.

Jadi kapan nih maen ke Solo Baru gaes?


Saturday, 29 April 2017

Pesona Air Terjun Sri Gethuk Gunung Kidul


AIR TERJUN SRI GETHUK


Setelah melalui jalan kecil berkelok-kelok akhirnya kami sampai juga di tempat parkir air terjun Sri Gethuk. Untungnya GPS selalu memandu kami, meski perdebatan kecil dengan mas bojo beberapa kali terjadi. Lha gimana ngga adu mulut, petunjuk GPS  meminta kami belok kanan tapi papan petunjuk menuju ke air terjun Sri Gethuk malah mengarahkan kami untuk lurus.  Saya sebagai navigator ngarahin sesuai GPS donk, tapi doski malah manut papan petunjuk. Dan itu kejadian beberapa kali. Saya sih ngalah ajah yang penting kalau tersesat atau rute makin jauh jangan nyalahin saya ajah.

Perjalanan menuju Sri Gethuk cukup dekat, karena start kami dari Dlingo. Kami baru saja selfi-selfi di Jurang Tembelan Dlingo. Dlingo merupakan daerah paling timur selatan Bantul dan berbatasan dengan Gunung Kidul. Jadi ke Sri Gethuk dari Dlingo itu ditempuh sekitar setengah jam saja. Jika kamu dari Jogja, mungkin memerlukan waktu kurang lebih 1,5 jam.

Sobat Piknik, jalan menuju ke air terjun Sri Gethuk makin lama menyempit. Ketika hampir mendekati tempat parkir jalan dibikin searah karena memang hanya muat 1 mobil dan jalannya berbatu. Gronjal-gronjal asyiklah. LOL

Meskipun jalannya sempit tapi tempat parkir air terjun Sri Gethuk lumayan luas. Aspalnya terlihat masih baru dan kentara sekali jika untuk membangun tempat parkir, pengelola harus mengepras/memotong tebing/bukit.

Asal Mula Air Terjun Sri Gethuk

Sejarah nama air terjun yang memiliki 3 sumber mata air dari “Kedung Poh” , “Ngandong” , dan “Ngumbul” ini berasal dari nama “Sri Kethuk” yang adalah nama dari sebuah lokasi tempat buat nyimpan peralatan yang di miliki oleh raja jin yang merupakan penunggu dari Air Terjun Sri Gethuk. Kalau menurut cerita masyarakat olayen sendiri di kawasan wilayah air terjun yang eksotis nan indah ini tinggal sesosok raja jin yang bernama “Onggo Menduro” yang lebih sering di sebut Mbah Onggo. Si mbah Onggo sang raja jin ini rupanya menyukai kesenian dan bahkan beliau pun mempunyai peralatan gamelan. Peralatan gamelan tersebut yang bisa di wujudkan dan di gunakan oleh masyarakat dusun Menggioran melalui sebuah ritual khusus.

Jalan Sehat Dulu ya Sobat Piknik




Dari parkiran mobil hamparan sawah menghijau begitu memanjakan mata, terlihat parit kecil dan membuat saya bertanya-tanya, jangan-jangan air terjunnya sekecil parit itu. Hehehe.

Penjual aneka makanan  nampak berjajar di pinggir jalan. Cukup mengganggu konsentrasi juga karena pengen beli bakso tusuk tapi langsung dilarang Mas Bojo, Lha kan nanti mau ke sungai masak bawa makanan kotang katung. Lol. Yawis kami bablas dan ngga nglirik-nglirik sama bakul lagi.

Setelah berjalan lebih dari 200 meter dan si air terjun belum nampak batang hidungnya. Kata temen kantor yang berasal dari Gunung Kidul dan pernah ke air terjun Sri Gethuk semasa baru ditemukan 2 tahun lalu memang bercerita kalau menuju air terjun harus naik rakit atau berjalan di pematang sawah dengan resiko kepleset dan jatuh.




Belum terlihat tanda-tanda air terjun  di depan mata. Yang ada papan nama Air terjun Srigethuk yang berwarna ngejreng. Duo anak lanang pose dulu bareng si Bapak. Pake ngantri lho pemirsah karena pengunjung air terjun lumayan ramai.

Dari sini sungai besar mulai terlihat, tapi sebelum sampai di pangkalan rakit, kita harus jalan sehat lagi gaes. Lumayan, menuruni anak tangga jumlahnya puluhan. Mertua saya memilih beristirahat diatas dan nggak ikut turun ke sungai. Maklum tenaga sudah mulai berkurang dan Mamak istirahat di warung sembari menikmati kelapa bakar.





Sobat Piknik, jika kamu membawa balita alangkah  baiknya ketika menuruni jalan setapak si kecil selalu digandeng. Tidak semua tepian dilengkapi pegangan, jadi harus ekstra hati-hati. 

Musim hujan membuat aliran sungai Oyo cukup besar dan berwarna coklat karena banjir di hulu sungai. Di musim kemarau debit air lebih kecil dan berwarna hijau, tapi memang lebih asyik jika kayak gini. Airnya deras dan serasa di sungai besar.





Sebelum naik rakit menuju ke Air Terjun, kita harus beli tiket dulu. Ada dua jenis tiket, yang pertama hanya tiket naik rakit PP seharga Rp. 10.000 sedangkan untuk tiket seharga Rp. 35.000 pengunjung akan mendapatkan jaket pelampung, fasilitas kamar ganti serta pemandu jika ingin susur sungai.




Tempat wisata sekarang selalu ramai dikunjungi wisatawan, begitupun Sri Gethuk jadi mau naik rakit juga ngantri ya gaes. Padahal rakit yang dijalankan ada lima, tapi tetep ajah nunggu sampai kosong.




Jarak dari pangkalan rakit menuju ke air terjun ngga begitu jauh kok, paling sepuluh menit udah nyampe. Di air terjun penuh dengan manusia yang sibuk main air, karena saya memang tidak berencana masuk ke sungai , apalagi mandi basah di bawah air terjun jadi tadi beli tiket yang sepuluh ribu saja. Kebanyakan wisatawan dari jauh sih ditawarinya yang 35 ribu, karena saya turis lokal beli yang murah ajah. Hahahaha.







Air terjun Sri Gethuk tidak terlalu tinggi, tapi ada beberapa air terjun kecil yang mengalir dari sungai di atas. Selain menikmati guyuran air dari atas, beberapa pengunjung nampak asyik berenang di sungai. Tali tambang nampak melintang di atas sungai, sebagai antisipasi dan batas aman berenang.







Saya sendiri cuma lihat-lihat sebentar, duo anak lanang yang memang tidak terlalu suka air hanya berdiri memandangi orang yang main air. Saya juga agak ngeri berjalan menuju bawah air terjun, terlihat licin dan saya bawa balita. Mungkin jika saya solo traveling bakal nyemplung dah ke sungai.




Satu lagi tantangan yang patut kamu coba ketika berwisata ke air terjun Sri Gethuk, susur sungai saja dari air terjun menuju ke pangkalan tentunya ditemani pemandu ya. Seperti si mas yang mengikuti rakit saya ini.




Nah, mumpung weekend nih gaes piknik yuk ke Sri Gethuk, tapi jangan lupa baca petunjuk disana. Setelah jam 4 sore area Sri Gethuk sudah harus kosong. Jika kamu main airnya kelamaan hingga lebih dari jam 4 bakal ngga ada rakit yang bisa kamu tumpangi.





Air Terjun Sri Gethuk
Dusun Menggoran, desa Bleberan, Kecamatan Playen, Gunung Kidul



Laptop ACER Bagi Traveler

Halloha Sobat Piknik, sudah piknik kemana saja weekend yang lalu? Pastinya selalu bahagia ‘kan apalagi jika bisa piknik dan pekerjaan te...