Tuesday, 28 June 2016

Sejenak Menepi dan Menikmati Sejuknya Lereng Merbabu di Gua Maria Pereng

Gua Maria Pereng


Bulan Mei hampir berakhir saat Mas Bojo mengajak kami ziarah ke Gua Maria Pereng di Dusun Jampelan desa Getasan Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Dan saya pun tak menolaknya, karena di bulan Mei kami memang kurang piknik. LOL. 

Karena lokasinya lumayan jauh dari Jogja, kami berangkat mruput alias lebih pagi. Jam setengah delapan saya dan anak-anak sudah siap.(( Kami mah selalu siap untuk piknik gaes)). Sengaja saya tidak membawa barang terlalu banyak, habis males juga kalau anak-anak di bawain nasi tapi malah nggak ke makan. Ntar jajan di lokasi ziarah saja, yang penting Duo Anak Lanang sudah sarapan dan ada cemilan di mobil.

Lokasi Gua Maria Pereng di Kabupaten Semarang


Gua Maria Pereng terletak di Kabupaten Semarang, bukan di Salatiga ya gaes. Tapi banyak orang yang mengatakan kalau Gua Pereng ada di Salatiga bahkan beberapa artikel juga menuliskan Gua Maria Pereng Salatiga dan itu salah. Saya pun sempat berdebat dengan suami, dia bersikukuh jika Gua Maria Pereng masuk area Salatiga padahal jelas-jelas di Wikipedia bukan. Tapi memang sih, Kabupaten Semarang dan Salatiga berdampingan dan orang berpikir Kabupaten Semarang itu ya kota Semarang, padahal jauh.

Akhirnya kami berangkat jam 8 pagi. Walaupun sudah siap dari jam setengah 8 tadi. Biasa, ritual wira-wiri, ambil ini ambil itu memakan waktu setengah jam gaes. Siapa yang bikin lelet? Bukan saya kok. LOL

Perkiraan kami bakal sampai jam 11an tapi ternyata jam 10 lebih sedikit kami sudah sampai Gua Maria Pereng. Cuma dua jam gaes, jarak Jogja ke Kabupaten Semarang ((bukan kota Semarang yaa)). Rute yang kami lewati dari Kalasan - Kota Klaten - ke arah Jatinom - Boyolali - Salatiga - lewat ringroad - belok kiri ke arah Getasan. Gampang banget kok rutenya, kalau pengen gampang ya pakai Google Maps aja. Saya juga ngandelin itu kok. LOL

Sejarah Gua Maria Pereng Semarang 

Tanah di Gua Maria Pereng merupakan hibah dari  dr Soeryono MM, umat Katholik dari Yogyakarta. Pada 20 Februari 2009, Soeryono menghibahkan tanah seluas 4.637 meter persegi kepada Gereja Katolik. Ia bercita-cita tanah itu bisa dimanfaatkan untuk pengembangan iman umat di wilayah itu. Dan akhirnya bisa berkembang menjadi taman doa hingga sekarang ( Sumber : www.hidupkatolik.com).

Walaupun lokasi itu berada di Dusun Jampelan, Desa Getasan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Tapi dalam status yurisdiksi parokial, lokasi tempat ziarah ini masuk wilayah Stasi St Yusuf Getasan, yang berada di bawah reksa pastoral Paroki St Paulus Miki Salatiga. Jaraknya sekitar 10 kilometer dari Kota Salatiga. ((bingung kan))

Nah, mungkin ini yang menyebabkan banyak orang salah sebut karena lokasi secara paroki ikut Salatiga tapi geografis ikut Kabupaten Semarang ((jelas gaes?))

Jalan menuju Gua Maria Pereng lumayan menanjak, setelah memasuki area Getasan banyak terdapat gereja di kanan kiri jalan. Udara dingin mulai terasa karena area pegunungan dan jalan dari Salatiga ke Getasan ini merupakan rute menuju Bandungan dan Kopeng.
Gua Maria Pereng
Tempat parkir Gua Maria Pereng cukup luas

Gua Maria Pereng
Jalan menurun menuju tempat doa


Ohya gaes, kenapa Gua Maria ini bernama Pereng?

Dalam bahasa Jawa pereng berarti tanah miring dan terjal. Makanya Taman Doa yang terletak di sisi utara lereng gunung Merbabu ini dinamai Gua Maria Pereng. Ada dua tempat parkir dengan ukuran sekitar dua ratusan meter, yang diluar masih berbatu dan digunakan untuk parkir bus, sedang mobil bisa parkir ke dalam, jadi nggak perlu jalan terlalu jauh.

gua maria pereng
Siap jalan kaki 'kan?

Tempat parkirnya luas, banyak pohon dan rindang. Saya sudah tak sabar menuju taman doa Gua Maria dan berjalan mengikuti petunjuk. Jalan menurun membuat saya agak kerepotan menggandeng duo anak lanang. Mereka pengennya lari, padahal jalan cukup curam dan saya nggak tega membiarkan mereka berlarian dan lepas dari genggaman. 




Sekitar dua ratusan meter terlihat jembatan kecil dan rumpun pohon bambu serta hutan kecil di belakangnya. Ada persimpangan, kalau ke kanan menuju toilet dan mata air. Berhubung cuaca dingin saya memutuskan ke toilet dulu baru berdoa. Sedang suami membersihkan muka dan merasakan dinginnya air dari sumber mata air. Ohya, di hampir semua Gua Maria biasanya ada umbul/mata air/sendang dan pengunjung menggunakan air itu untuk cuci muka, cuci tangan dan kaki, bahkan ada yang meminumnya.  Air dimaknai sebagai sumber kehidupan, menyegarkan dan berharap dengan berdoa  peziarah akan lebih merasa segar dan bersemangat ((opini pribadi)).

Gua Maria Pereng


Sumber mata air dibangun menyerupai sebuah gua dan tertutup, peziarah bisa mengambil air dari beberapa kran yang sudah tersedia. Saya sendiri tidak mencoba mengambil air karena duingin dan saya tuh paling males berurusan dengan air khususnya mandi. LOL

Jadwal Novena selama 1 tahun di Taman Doa Gua Maria Pereng

Gua Maria Pereng
Itu bukan saya lho gaes

Gua Maria Pereng



Dari toilet kami kembali ke atas dan langsung menuju ke Gua Maria. Ada altar dalam joglo yang digunakan saat misa/ibadat. Dan sebuah Gua Maria yang tersusun dari batu-batu kali. Bunda Maria nampak anggun disana, tak banyak kata, hanya dengan memandangnya saya merasa terharu dan seolah diingatkan oleh Ibu apa saja yang telah saya perbuat selama ini. 

Saat itu Gua Maria tidak terlalu ramai, hanya beberapa keluarga dan rombongan yang sedang mengikuti Jalan Salib di bawah. Pada area bawah tersedia 13 pemberhentian untuk Jalan Salib, jarak antar satu pemberhentian pendek-pendek, nggak bikin capek sob. Tapi karena duo anak lanang belum memungkinkan untuk dia ajak jalan salib kami hanya berdoa di depan Bunda Maria.




Sobat Cerita Piknik, ziarah yang saya maksud bukan ziarah ke makam ya tapi di taman doa/Gua Maria umat Katolik menjalankan ibadah atau doa untuk mengenang kembali peristiwa sengsara Yesus.  Dan tak hanya umat Katolik yang boleh berdoa disini, pastinya saat disini selalu jaga ketenangan ya gaes.



Di akhir rute Jalan Salib ada sebuah tempat yang dinamakan Golgota, ada tiga salib dan salah satunya melambangkan salib Yesus. Selesai berdoa kami segera keluar dari taman doa, nggak enak kalau duo anak lanang mulai berisik dan mengganggu kekhusyukan umat lain.


Sobat Cerita Piknik, jangan lewatkan untuk mencicipi kuliner lokal seperti nasi pecel, bubur lethok, mendoan panas dan untuk oleh-oleh ada aneka kripik dari sayuran organik. Harga makanan di sini cukup murah gaes, dua bubur, cuma 8 ribu saja. Murah 'kan?


Nah, berdoa sudah, menikmati sejuknya lereng Merbabu sudah, makan bubur sudah, cus waktunya pulang gaes.

Sampai jumpa di #CeritaPiknik selanjutnya :)

4 comments:

  1. jawa tengah memang tempatnya wisata alam yg keren2
    duh liat buburnya jadi ngiler hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, buburnya ngangenin n di Jogja nggak ada.

      Delete
  2. Agak-agak aneh menurut saya karena dituliskan GUA karena biasanya dituliskan GOA. Tapi seru kayaknya nih tempat.. Salam kenal.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak yg menyebut goa tapi saya terbiasa nyebut Gua, hehe

      Delete

Jangan lupa komentar yaa Sobat Piknik

6 Hal Ini Bisa Kamu Lakukan di Pengklik Pesona Pantai Samas

Sebenarnya ini bukan cerita piknik sesungguhnya, tapi sekedar mampir karena kebetulan lokasi yang saya datangi dekat sama Obyek Wisata...