Sunday, 28 August 2016

Pesona Bangunan Tua Lawang Sewu Semarang


Kota Semarang sudah menjadi tujuan wisata saya beberapa bulan belakangan. Walaupun sebelumnya di kantor ada wisata ke Semarang tapi saya nggak ikut karena saya tak hanya ingin menikmati Semarang di siang hari, khusus saya ingin tahu Simpang Lima saat malam, ramainya kawasan Pecinan atau sekedar nongkrong di mall tapi pas malem. Yaaaah ((nada kecewa)) walaupun itu semua tidak kesampaian karena pak sopir a.k.a mas Bojo kecapekan dan keluar dari hotel cuma makan di KFC. ((rugi aku sing booking hotel)). Duo anak lanang agak masuk angin dan saya tidak bakal menggadaikan kesehatan mereka HANYA demi menikmati malam di Semarang. ((next time aja bareng Tom Cruise)). LOL

Simpang lima Semarang



Okey, fix. Apapun yang terjadi piknik harus hepi, dibold yaaaa HEPI. Lupain saturday nite yang kelabu dan nikmati cerita piknik kami di hari Minggu, 31 Juli 2016 yang lalu.






Selesai breakfast di FAVE hotel, kami cuss ke Lawang Sewu. Destinasi umum, penting dan harus saat  Semarang. Lagi-lagi meleset dari rencana dimana saya ingin menikmati senja di Lawang Sewu, menikmati Simpang Lima saat matahari terbenam dan sedikit merasakan sensasi horornya Lawang Sewu yang terkenal sebagai bangunan angker dan mistis ((masak iyaa?))

Angka belum menunjukkan pukul delapan saat kami memasuki kawasan Simpang Lima yang jaraknya nggak sampai 10 menit dari daerah Diponenegoro. Pastinya dengan panduan GPS, kalau enggak mungkin nggak bakalan nyampe. LOL.

Kami agak bingung untuk memarkir mobil karena kawasan Simpang Lima tertutup pagar dan tidak nampak tempat parkir. Mas Bojo mengurangi kecepatan mobil dan sedikit menepi sambil menyalakan sein sebagai tanda kami mau parkir. Persis di timur pintu keluar Lawang Sewu beberapa orag namapak melambaikan tangan dan memberi kode parkir ke kami. 

Suami langsung belok kiri memasuki gang kecil yang berada di tepi sungai. Ada beberapa motor dan mobil yang terparkir di badan gang. Sekitar 100 meter ada ruang kosong dan suami memarkirkan mobil disana. Uang parkir langsung ditarik sebesar 5000 rupiah. Saya menyapa mas parkir dan dengan bahasa Jawa saya menitipkan mobil kami.

Walaupun kami membayar parkir, saya selalu menyapa tukang parkir dan bilang " Nderek titip ya mas" agar mereka lebih perhatiaan ke kendaraan saya. Beda kalau kita cuek, mereka juga cuek, mobil nggak aman karena banyak tangan iseng dan kadang bikin lecet mobil.

Gaes, for your information ternyata tempat parkir resmi saat ke Lawang Sewu itu di Java Mall atau Museum Mandala Bakhti Kodam IV Diponegoro. Yah, lumayan sih jalannya. Karena saya kesananya masih pagi dan belum rame saya bisa parkir di dekat Lawang Sewu.


Lawang Sewu buka pada pukul setengah 8 pagi. SO saat itu kami sudah bisa masuk ke Lawang Sewu dan ternyata di dalam kompleks Lawang Sewu sudah banyak pengunjung berwisata ke sana. Ehm, pada doyan piknik yaaa, pagi-pagi dah nyampe sini.

Well, sebelum keliling Lawang Sewu dan ada apa di dalamnya, simak ya histori dari Lawang Sewu versi Wikipedia :
Lawang Sewu  adalah gedung gedung bersejarah di Indonesia yang berlokasi di Kota Semarang, Jawa Tengah. Gedung ini, dahulu yang merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelminaplein.

Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah. Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober - 19 Oktober 1945). Gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Maka dari itu Pemerintah Kota Semarang dengan Surat Keputusan Wali Kota Nomor. 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi.
Saat ini bangunan tua tersebut telah mengalami tahap konservasi dan revitalisasi yang dilakukan oleh Unit Pelestarian benda dan bangunan bersejarah PT Kereta Api Persero.
Saat ini Lawang Sewu digunakan sebagai museum kereta api, jadi jangan heran jika berkeliling didalamnya banyak benda yang berhubungan dengan kereta. Dan kereta api lah yang membuat duo anak lanang agak reseh saat keliling di dalam gedung. Mereka keburu pengen lihat kereta api tua yang ada di samping gedung dan kami tak mau melewatkan isi Lawang Sewu dengan langsung keluar dan menuruti duo anak lanang melihat kereta. 

Jangan Lupa Beli Tiket Masuk Yaa!




Gaes, jangan lupa beli tiket masuk dulu yaa dari pada kamu di tegur ama pak Satpam yang stand by di depan loket. Harga tiket masuk Lawang Sewu sebesar 10.000 untuk dewasa dan 5000 untuk anak-anak. Karena kami berempat kami harus membayar 30 ribu saja.

Selesai membeli tiket serahkan pada petugas jaga dan mari eksplore Lawang Sewu

Bapak dan duo anak lanang foto disamping Genta Perlintasan

 





Gedung Lawang Sewu berbentuk U dengan pintu yang sangat banyak, saat memasuki satu ruangan untuk keluar ada banyak pintu jadi kadang bingung perasaan udah keluar tapi malah masuk lagi. Setiap banguan berlantai tiga dengan ruang bawah tanah tapi tidak boleh dimasuki.
























Pohon Kamboja yang sedang berbunga berwarna kuning tampak serasi dengan bangunan Lawang Sewu yang juga bernuansa kuning di tiangnya. Saya memandangi setiap sudut Lawang Sewu dan penasaran dimana ya sisi horornya. Karena kalau pagi seperti sekarang, Lawang Sewu terlihat cantik dan klasik. Tak ada horornya sedikitpun.


Puas berkeliling di bagian luar bangunan Lawang Sewu saya mengajak mas Bojo dan anak-anak masuk ke dalam gedung. Pintunya yang banyak bikin bingung euy, perasaan masuk ke ruang sebelah ternyata malah kembali ke ruangan yang tadi. Pantes ya namanya Lawang Sewu kan pintunya buanyak banget.


Jendela kaca bergambar klasik


Pintunya buanyak





































































Lawang Sewu sekarang menjadi  museum kereta api jadi jangan heran jika didalamnya banyak pernik pernik kereta api. Anak-anak seneng banget melihat miniatur kereta api, patung masinis dan sejarah tentang kereta api Indonesia.


Patung Masinis bajunya ada namanya Pak Jonan lho, mantan Menhub kita


























Duo anak lanang seneng banget lihat kereta api kecil-kecil, ada rel kereta juga dan jadi pengen dibeliin mainan kereta #haduh.'

Duo anak lanang seneng banget  lihat kereta walau cuma replikanya























Nathan lihat miniatur kereta lengkap dengan jembatan
























Sayang saya ngga sempat membaca  semua sejarah perkereta apian dan foto foto jaman dulu yang dipajang disini. Mas Nathan pengen segera keluar dan melihat lokomotif yang ada di luar gedung Lawang Sewu. Tapi sebelum keluar saya melihat orang berbondong-bondong melihat isi bangunan sebelah yang ternyata ada bangunan menuju bawah tanah, di dalamnya lembab dan tergenang air, koin uang logam juga nampak berserakan di dasar ruangan.




Lorong ini memang didesign selalu basah agar ruangan di atas Lawang Sewu tetap sejuk karena Semarangkan panas dan kering. Pada jaman penjajahan Jepang lorong bawah tanah digunakan sebagai ruangan tahanan sekaligus menyiksa para tahanan. Ah, ngeri yaa dan jika sudah meninggal akan dibuang di sungai belakang Lawang Sewu ((tempat saya parkir mobil donk, hiii)).



Yeaaay, akhirnya naik kereta juga

Pagar luar Lawang Sewu
Finnaly, Nathan puas bisa naik lokomotif hitam dan poto poto bareng bapaknya. Jam menunjukkan pukul setengah 10 dan kami bersiap meninggalkan Lawang Sewu yang membawa kesan tersendiri. Anak-anak hepi melihat gedung bersejarah dan kereta api sedang saya makin paham dibalik kokohnya Lawang Sewu puluhan tahun yang lalu tersimpan kelamnya masa lalu, penjajahan sesama manusia. Penindasan demi sebuah kekuasaan dan materi.

Ehm, lalu apakah sekarang tak ada lagi "penjajahan" antar manusia?

9 comments:

  1. fot2nya jernih :) anak saya yg udah pernah ke lawang sewu. kebetulan ada tantenya yg tinggal di semarang. saya sendiri belum pernah ke lawang sewu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayuk mbak maen ke Semarang sekaligus mampir tempat saudaranya.

      Delete
  2. aku suka model design toiletnya itu lho mba yang pas kita masuk..keren yaa.

    ReplyDelete
  3. Pengen banget ke Lawang Sewu, moga2 suatu sat nanti kesampaian bisa ke Semarang aamiin :D

    keluargahamsa(dot)com

    ReplyDelete
  4. Pernah ke Semarang tapi belum pernah berkunjung ke Lawang Sewu, kapan-kapan pengen juga soalnya banyak cerita bernuansa horor...sepertinya nuansanya di pagi hari berbeda dengan suasana malam hari yaa

    ReplyDelete
  5. Aku belum pernah loh ke Lawang Sewu. Meskipun wong Boyolali, tapi buta soal Semarang. Enggak pernah diizinin enyak babe main ke daerah Semarang... hehehe

    ReplyDelete
  6. Wihii keren banget ya mba tempatnya. Apalagi sama anak. Belajar sejarah sekalian menikmati spot bagus buat foto2. Eh harus bawa baterai penuh nih olus power bank biar ga kehilangan momen mengabadikan gambar..

    ReplyDelete
  7. Wihii keren banget ya mba tempatnya. Apalagi sama anak. Belajar sejarah sekalian menikmati spot bagus buat foto2. Eh harus bawa baterai penuh nih olus power bank biar ga kehilangan momen mengabadikan gambar..

    ReplyDelete
  8. seru banget mbak,, kerennn,, meskipun ada bagian ruangan yang agak horror,

    pengen kesana juga jadinya...

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaa Sobat Piknik

6 Hal Ini Bisa Kamu Lakukan di Pengklik Pesona Pantai Samas

Sebenarnya ini bukan cerita piknik sesungguhnya, tapi sekedar mampir karena kebetulan lokasi yang saya datangi dekat sama Obyek Wisata...