Thursday, 22 September 2016

Museum Sangiran, Tempat Belajar Sejarah Manusia Purba dan Temukan Hakekat Kemanusiaanmu di Sini



Ini kali kedua saya menyambangi Museum Manusia Purba Sangiran di Sragen. Sebelumnya saya pernah ke Museum Manusia Purba Sangiran bersama Mas Bojo dan Duo anak Lanang serta mertua. Tanpa rencana karena sekedar mampir. Kebetulan kami lewat Sragen dari melayat kakak di Purwodadi dan tertarik dengan baliho besar iklan Museum Sangiran.

Sayang, penonton kecewa gaes. Museum Manusia Purba Sangiran tutup di hari Senin itu. Menurut keterangan penjaga museum, memang setiap hari Senin museum tutup untuk dibersihkan dan perawatan buka lagi di hari Selasa hingga Minggu.



Lokasi Museum Manusia Purba Sangiran

Menemukan museum manusia purba tidak terlalu susah, berada di Krikilan, Kalijambe,  Karanganyar, Jawa Tengah.Rute menuju Sangiran cukup mudah gaes. Kalau dari arah Jogja tinggal lurus saja menuju Solo, dari Solo ke arah Purwodadi. Ada papan nama besar di pinggir jalan Sragen yang menunjukkan arah ke Museum Manusia Purba Sangiran.

Desa Krikilan, Kalijambe lokasi Museum Sangiran berada 40 km dari Sragen dan sekitar 17 km dari Solo. Saya penasaran dengan  museum ini dan pengen belajar juga sejarah manusia purba di Indonesia dan dunia.
Ohya, ada beberapa museum di komplek Sangiran tapi yang paling besar sepertinya yang saya kunjungi. Musium lainnya adalah Museum Sangoran Kluster Dayu dan Kluster Ngebung.

Museum Sangiran memiliki banyak fosil jaman pleistocen ( + 2 juta tahun lalu). Fosil-fosil purba ini merupakan 65 % fosil hominid purba di Indonesia dan 50 % di seluruh dunia. Hingga saat ini telah ditemukan lebih dari 13.685 fosil 2.931 fosil ada di Museum, sisanya disimpan di gudang penyimpanan.





Duo anak lanang happy banget diajak ke museum ini dan antusias bertanya ini itu. Saya harus mengenalkan mereka dengan sejarah manusia purba apalagi museum manusia purba Sangiran menjadi World  Heritage  List  (Warisan Budaya  Dunia).

Yuk jelajahi museum manusia purba Sangiran bersama Cerita Piknik.


Tempat parkir museum Sangiran cukup luas, muatlah puluhan mobil dan bis. Saat ke sana banyak bus-bus pariwisata yang membawa rombongan wisatawan dan anak-anak sekolah. Tiket masuk juga tidak terlalu mahal, per orang Rp. 5000 saja.  Toilet ada di dekat parkiran dan sepertinya di dalam museum tidak ada lagi.

Arsitektur bangunan museum Sangiran cukup unik, gedungnya berbentuk kerucut , ada tangga memutar dengan dinding marmer di kiri dan kanannya. Dan jangan lupa isi buku tamunya dulu. Biar dapat senyum juga dari mas Satpam. #eh.



Usai menulis data diri saya mengejar duo anak lanang yang sudah naik duluan ke lantai atas bersama ibu mertua. Ada 3 ruang pamer yang menyimpan benda-benda purbakala dan wajib hukumnya memasuki semua ruang pamer. Pintu masuk museum ada di samping kiri, kita berjalan menyusuri lorong terbuka dan di kanannya dinding bebatuan asli sedang kirinya pemandangan sungai dan lembah.



Ruang Pamer 1/ Display Area 1  



Ruang pamer 1 berisi koleksi fosil fosil hewan purba seperti gading gajah, tulang belakang gajah dan buaya. Ukuran fosil yang jauh lebih besar dari gajah sekarang. Angan saya langsung terbayang film Jurassic Park yang menceritakan hewan hewan jaman purba yang besar.




Museum Sangiran ini merupakan museum yang menyimpan situs manusia purba terlengkap se Asia. Sangiran menjadi lokasi penemuan manusia purbadan ditemukan ole arkeolog Eugene Dubois pada tahun 1893. Di Sangiranlah ditemukan rahang bawah Pithecantropus Erectus atau manusia Sangiran. Baru kemudian pada tahun 1936 hingga tahun 1941 para arkeolog menemukan fosil Pithecantropus Erectus yang merupakan salah satu taxon Homo Erectus oleh GHR von Koenigswald pada tahun 1934.






Eksplorasi para arkeolog di kawasan Sangiran masih berlangsung hingga sekarang, bahkan di tahun 2015 masih ditemukan beberapa fosil oleh warga sekitar dan kemudian di serahkan ke pihak museum.






Mengelilingi museum Sangiran dan menyaksikan sendiri bukti fisik peninggalan hewan purba dan manusia purba yang hidup jutaan tahun yang lalu membuat saya berpikir dan membayangkan. Seperti apa ya Sangiran di jaman dulu?


Pada 500.000 tahun yang lalu berbagai hewan dan manusia hidup berdampingan di daerah Sangiran. Jaman itu Sangiran merupakan lingkungan hutan terbuka di sebuah lembah dan diantara dua gunung api. Saat itulah masa jaman keemasan Sangiran.

Ruang Pamer 2

Jika di ruang pamer pertama berisi koleksi fosil hewan, di ruang pamer dua  kebanyakan koleksi tentang manusia purba. Beberapa patung yang menggambarkan manusia purba jaman lampau. Geli juga melihat patung telanjang, duo anak lanang sedikit protes kok pada saru. Hahaha.




Beberapa ahli bumi dan arkeolog terpampang di ruang pamer dua. Pendapat mereka tentang pembentukan bumi dan alam semesta membuat saya tercengang. Apalagi saat melihat video pembentukan alam semesta. WOW.

 

Berbagai diorama tentang hewan purba dan manusia purba sangat menarik untuk dinikmati sekaligus belajar tentang manusia purba dan proses pembentukan pulau Jawa. Ternyata sebelum ada gunung Merapi, gugusan pegunungan di Gunung Kidul sebelumnya ada lembah dan daratan di Sangiran, tempat tinggal manusia purba dan hewan purba. Setelah terjadi letusan dahsyat baru terbentuk pulau Jawa dengan munculnya gugusan gunung di selatan. Ehm, benar juga jika dihubungkan dengan Gunung api purba Nglanggeran di Gunung Kidul. Keren yaa, dari penelitian kita bisa tahu sejarah dengan lengkap.





Profil para peneliti yang menemukan berbagai fosil di Sangiran :



 

Teori Sejarah Manusia Purba


Pasti kalian pernah berpikir donk, kenapa ya orang Indonesia kok ada yang sipit kayak orang China atau ada yang berkulit hitam seperti saudara kita di Papua. Ternyata teori nya ada disini. Manusia purba Sangiran atau manusia Jawa pertama merupakan percampuran dari Ras Australoid, Mongoloid dan Caucasoid. Jadi saya paham kenapa mata saya sipit dan dikira Chinese, karena memang ada darah Mongoloid jika disusur dari sejarah teori penggusuran.





Dan gambar diatas menerangkan teori baru tentang teori penggantian, jika semua manusa modern yang berasal dari Homo Erectus yang berevolusi menjadi Homo Sapiens di Afrika lalu tersebar luas ke seluruh dunia dan me. Homo erectus di luar Afrika punah dan secara genetia teori ini membuktikan jika seluruh manusia di dunia berasal dari satu Ibu dari Afrika. Nah Lho?



Di ruang pamer dua kita bisa melihat beberapa fosil manusia purba yang ditemukan di daerah Pacitan, Gunung Kidul, dan Kalimantan. Manusia Song Keplek dari Pacitan, manusia Song Braholo dan Song Terus dari Pacitan serta manusia Gua Tengkorak dari Kalimantan Selatan. 



Ruang Pamer 3




Ruang Pamer 3 menjadi tempat penjelajahan kami selanjutnya, ruangannya tidak sebesar ruang pamer dua. Disini ada maket bangunan Musium, terlihat jelas jika di bagian berbentuk kerucut itulah musium yang sedang saja jelajahi. Kita mengelilingi museum dengan jalan melingkar. Dari ruang pamer 1 hingga ruang pamer 3.





500.000 tahun yang lalu merupakan masa keemasan manusia purba Homo Erectus di daerah Sangiran.



Membayangkan Homo Erectus hidup di jaman purba, tanpa pusing mikirin tagihan KK, nggak pengen tas Hermes, nggak bingung nitipin anak dititipin dimana saat kerja atau nggak usah baper saat ada yang nyinyir dan nggak lemes saat lihat Ariel makin mesra ama mbakyu Sophia Latjuba. LOL

Hidup sederhana, mencari makan dari lingkungan sekitar, berburu hewan dan menjadi santapan sehari-hari. Menyusui anak tanpa perang sosmed ngasi sufor ato ASI dan nggak paka baju. Hahahaha. Kalau yang terakhir ini saya ogah, mau di sembunyiin dimana gelambir lemak dimana-mana kalau naked. LOL



Sobat Piknik, teori evolusi terjadi karena ada peluang. Karena peluang yang ada hingga manusia bisa bertahan dan harus beradaptasi. Dan yang membedakan kita yang mengaku sebagai manusia modern dengan manusia purba adalah karena kita berbudaya. Hakekat kemanusiaan bukan sedekdar tentang ragawi tapi manusia modern harus terus mengembangkan kemapuan untuk peduli, tenggang rasa dan memiliki cinta kasih. Nah lho, kita lihat ke diri kita sekarang ke masyarakat kita sekarang, masih adakah hakekat kemanusiaan itu? Atau kita malah berevolusi mundur dan menjadi manusa "purba" lagi dan menjadi manusia yang tidak berbudaya.

Selamat berpikir dan jangan lupa piknik. Ciayo,




7 comments:

  1. Wah... wah. Dulu tau manusia ini pas esempe doank waktu masih di luar jawa.
    Tapi terima kasih informasinya mba. Jadi referensi buat kegiatan sekolah. Kebetulan bulan depan mau tour jawa

    ReplyDelete
  2. kalau bawa anak kecil apa boleh ya ? kan itu ada patung yang tidak disensor :D

    ReplyDelete
  3. Kayaknya seru mbak jalan jalannya apalagi kemuseum saya belum pernah liburan kemuseum paling juga ke kebun binatang soalnya ditempat saya mah gak ada museum terdekat adanya juga jauh dan beda kotanya.

    ReplyDelete
  4. wah, ini nih baru yang namanya menambah pengetahuan sejarah. :D

    ReplyDelete
  5. Sejarah memang sangat bermanfaat untuk pembelajaran dimasa depan . Yang penting jangan samakan manusia dengan monyett .

    NLP SURABAYA

    ReplyDelete
  6. Waw keren ih mba prima nulisnya detail bgt :D

    ReplyDelete
  7. manusia purba dari sangiran sering banget disebut waktu pelajaran sejarah dulu, ternyata di Indonesia juga ada ya manusia purba

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaa Sobat Piknik

6 Hal Ini Bisa Kamu Lakukan di Pengklik Pesona Pantai Samas

Sebenarnya ini bukan cerita piknik sesungguhnya, tapi sekedar mampir karena kebetulan lokasi yang saya datangi dekat sama Obyek Wisata...