Wednesday, 25 January 2017

Mengulik Sejarah Kraton Kasunanan Surakarta


Sebagai putri Solo tapi belum pernah ke Kraton Solo itu memalukan gaes. Jangan dibully ya. Saat saya ke tempat simbah di Kendal, saudara dan tetangga-tetangga pasti nanya saya, kapan dari Solo nggak pernah nanya kapan dari Klaten. Karena bagi mereka Klaten itu ya Solo, jadi boleh ya nyebut diri sendiri putri Solo. Ehem.


Jalan-jalan itu jangan cuma ke mall gaes, sesekali lah ke kraton apalagi jika punya anak kecil. Sekalian mengenalkan budaya bangsa dan sejarah. Sebelumnya saya pernah ke kraton Kasunanan Solo, anak-anak senang dan kemaren kembali saya ajak berkunjung ke Kraton Solo.





Harga tiket masuk di Kraton Solo sebesar 10 ribu untuk wisatawan domestik, ada dua loket. Pertama yang diluar dekat parkir mobil dan satunya pas didepan pintu masuk Kraton. Saya sempet bingungm karena tadi udah beli tiket eh kok pas masuk ada loket lagi. Tanya ke petugas ternyata bayarnya cukup sekali saja.



Jalan di depan Kraton merupakan jalan umum, dulu waktu sering kulakan di Klewer, saya pulangnya lewat samping kraton dan tembus di jalan menuju Solo Baru. Kraton Solo warna dominan biru dan kita bisa berfoto bersama di depan kraton. Ada dua petugas yang berseragam prajurit kraton dan menemani pengunjung berfoto. Sreeeeeng. Saya sempet kaget saat mereka mengeluarkan pedang saat berpose bersama kami.

Kasihan Bapak dan anak "nyeker" :)

Temans, masuk ke lingkungan Kraton ada peraturan tersendiri, pengunjung dilarang merokok, membawa makanan, berpakaian pantas, tidak boleh memakai sandal dan kacamata serta topi dan sandal dilepas. Kalau saya mah pake sepatu aman, boleh masuk tanpa harus melepas sepatu, lha mas bojo sama Nathan pakai sandal sehingga harus dilepas dan mereka "nyeker" gaes.





Foto para raja Kraton Solo terpajang di dinding kraton. Aula aula di batasi tali sehingga pengunjung tidak bisa menginjak lantai aula. Kita hanya bisa berkeliling serta melihat patung patung bergaya Romawi. Agak heran juga saya, kenapa Kraton Jawa tapi patungnya bergaya Romawi.





Sajen dan kemenyan nampak di sudut bangunan, seorang nenek tua duduk di pinggir aula yang dibatasi tali. Saya ngobrol dengan simbah yang merupakan abdi dalem dan tinggal di Pajang. Setiap pagi beliau diantar anak dan sore kembali dijemput cucu. Kata beliau, disini dia bisa mengabdikan diri pada kraton daripada di rumah beliau tidak ada pekerjaan. Walaupun bayaran yang diterima perbulan tidak seberapa tapi beliau senang bisa mengabdi di keraton Solo.




Karena tak banyak yang dilihat di ruangan sini kami keluar dari halaman kraton dan menuju ruang-ruang yang lain. Pastinya mas bojo make sandal dulu yang tadi dititipkan ke petugas.









Di halaman tadi saya bertanya-tanya, kok isinya kraton cuma pendopo itupun tidak boleh dimasuki, ternyata museum yang sebenarnya ada disini. Banyak koleksi kraton yang sangat penting dan menunjukkan budaya asli Jawa, kraton Solo tepatnya.

Dari koleksi wayang, keris, mebel, pusaka, patung hingga mebel kepunyaan kraton di jaman dulu ada disini. Jika ingin benar-benar belajar, sebaiknya berkeliling kraton ditemani guide. Di sebelah saya kebetulan turis Asia dan selalu didampingi guide, sembari memperhatikan benda-benda bersejarah dan berseni itu saya ikut "menguping" penjelasan dari guide.

Banyak ilmu dan pengetahuan yang saya dapat tapi mau saya tulis disini udah lupa gaes :)). Sepertinya perlu sekali lagi eksplore ke Kraton Solo dan didampingi guide serta merekam penjelasan beliau, pasti bisa jadi bahan tulisan yang penting bagi generasi masa depan pastinya.




Puas melihat koleksi kraton sembari tergesa-gesa karena dieret-eret duo anak lanang, kami beralih ke ruang berikutnya. Di sana ada barang kraton yang berukuran besar seperti tombak, kereta kencana hingga




Yang sering lihat Kirab di Solo pasti tahu Kerbau Kyai Slamet, karena hingga sekarang keturunan Kyai Slamet selalu diarak saat kirab. Di dalam Kraton Kasunanan Surakarta juga ada Tanduk Kyai Slamet yang ukurannya besar. Jauh lebih besar dari tanduk kerbau biasa.

Kyai Slamet atau Kebo bule yang dipunyai oleh Kasunanan Surakarta Hadiningrat dianggap keramat dan disucikan. Oleh karena itu, kebo bule yang dapat dikategorikan sebagai salah satu jenis benda pusaka kepunyaan keraton ini juga diberi nama seperti layaknya benda-benda pusaka keraton lainnya. Nama yang diberikan untuk menyebut kebo bule milik keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat adalah Kyai Slamet.

Kerbau ini memang bukan sembarang kerbau. Kebo bule sangat dikeramatkan dan menjadi salah satu pusaka paling penting di Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Menurut kitab Babad Solo yang ditulis oleh Raden Mas Said, nenek moyang kebo bule adalah binatang kesayangan (klangenan) Sri Susuhunan Pakubuwono II, bahkan sejak masih bertahta di istana Kasunanan Kartasura Hadiningrat, atau sebelum pindah ke Kasunanan Surakarta Hadiningrat di Solo.

Disebut kebo bule karena warna kulit kerbau ini memang lain daripada yang lain, yakni berwarna putih agak kemerah-merahan, seperti warna kulit orang Eropa atau yang sering disebut dengan istilah bule. Oleh karena itu, kerbau ini kemudian disebut sebagai kebo bule. Kerbau unik dan langka ini menurut ceritanya adalah hadiah dari Bupati Ponorogo untuk Sri Susuhunan Pakubuwono II bersamaan dengan pemberian hadiah utama yaitu sebuah pusaka yang bernama Kyai Slamet. Disertakannya kebo bule pada awalnya adalah sebagai pengawal atau cucuk lampah bagi pusaka Kyai Slamet. Oleh karena bertugas sebagai pengawal pusaka Kyai Slamet inilah maka kemudian kebo bule pun disebut dengan nama Kyai Slamet. (sumber Soloraya.com).






Kraton Kasunanan memiliki buanyak peninggalan bersejarah yang tak hanya penting tapi juga memiliki nilai kesakralan seperti Kyai Rojo Molo. Ada tulisan dilarang disentuh pada benda Kyai Rojo Molo dan ada sesajen di dekatnya.

Menurut sejarah  Pusaka Kyai Rojo Molo adalah salah satu benda yang bersejarah dan sangat disakralkan. Setiap hari, di depan pusaka Kyai Rojo Molo selalu diberi sesaji. Rojo Molo adalah salah satu pusaka yang masih sering diruwat di Keraton Kasunanan Surakarta. Konon kalau tidak diberi sesaji, bau ruangan di kawasan ini akan menjadi amis.

Kyai Rojo Molo adalah hiasan yang terdapat pada kepala perahu perahu yang dipergunakan Sri Susuhan Pakubuwono VII.  Konon perahu yang digunakan tersebut adalah milik Joko Tingkir yang bergelar Sultan Hadiwiaya, penguasa Kesultanan Pajang yang merupakan cikal bakal Kasunanan Surakarta Hardiningrat.

Perahu ini juga digunakan hingga masa pemerintahan Pakubuwono X. Melayari Bengawan Solo dari Surakarta membawa komoditi pertanian seperti padi, lada, kapas, minyak, serta aneka kerajinan tangan ke bandar perdagangan Gresik yang ramai. Pelayaran ditempuh selama delapan hari dan kembali ke Surakarta memuat garam, belacan, ikan asin, maupun dagangan lainnya dari luar Jawa.




Di ruangan ini cenderung lebih gelap dan singup, ada beberapa barang agak berdebu dan sangat disayangkan. Menurut cerita Kyai Rojo Molo ini letaknya dari dulu ada di sudut dan tidak mau dipindah. Jika kamu kesini pasti tahu ada aura tersendiri disini, jujur kalau sendirian di dalam ruangan saya nggak berani. 

Ohya selain itu perahu dan dayung juga ada disini, mungkin perahu itu yang ditempeli canthik Kyai Rojo Molo.





Sebenarnya saya belum puas berkeliling dan melihat dengan seksama tiap benda bersejarah di Kraton Kasunanan Surakarta itu tapi duo anak lanang sudah mulai bosan dan capek. Kami keluar dan berhenti sejenak di bawah rimbun pohon beringin yang ternyata ada sumber air disana. Air itu digunakan untuk memandikan semua barang pusaka kraton. Pengunjung bisa mengambil air dan langsung meminumnya. Penjaga yang bertugas menjaga dan membersihkan sumber air itu menyediakan gelas untuk pengunjung. Suami yang memang suka dengan keraton serta berbagai cerita didalamnya minum air itu begitupun saya, airnya segar tapi ada rasa "anyep" gimana gitu. Tak lupa memberikan tips sekedarnya untuk dimasukkan ke kotak sukarela.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Kami memutuskan untuk segera pulang, lelah dan perut lapar sudah mendera. Anak-anak bergitu terkesan dengan barang-barang di kraton, banyak tanya dari mereka dan sedihnya simbok ngga bisa jawab.


Semoga dengan mengenalkan kraton sebagai salah satu akar budaya Jawa, anak-anak mencintai dan "nguri-uri" budaya Jawa. Sebagai orang Jawa jika tidak mengenal, mencintai serta melestarikan lalu siapa lagi yang bakal mencintai budaya sendiri?

Baca Juga :

Kraton Pura Mangkunegaran Solo

1 comment:

  1. Aku pernah ke sana pas masih kecil mba.. Jadi udah agak2 lupa isi di dalamnya kayak apa. Next, kalau ke Solo lagi pingin mampir jg ajak anak2.. :)

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaa Sobat Piknik

Batoer Hill Resort, Best View Resort in Jogja

Saya tertegun melihat beranda Facebook saya beberapa minggu yang lalu. Pemandangan indah lereng pegunungan berselimut kabut menghip...