Friday, 24 March 2017

Pacaran Bareng Mantan di Fuji Villa Kaliurang




Kata orang "kewajiban" suami istri saat malam Jumat itu sunnah rosul. Tapi bagi misua, kapan ajah hayuk. Dan yang repot siapa? Bininya donk. 

Seperti Jumat yang lalu ((uda lewatkan sunnah rosulnya)) dia tiba-tiba mengirim pesan via WA. 
"Yank, cari hotel sana, booking dulu ntar tak ganti"

Buset, bini lagi kerja malah disuruh hunting hotel untuk hari itu juga. Jadi dah, saya ngga konsen kerja malah seliweran di dunia maya. Berpindah tempat dari Traveloka, Mister Aladin hingga Agoda.  

Untung sih, hari Jumat agak santai dan tak banyak pekerjaan jadi bisa di sambi. Setelah wara wiri di dumay, satu villa kece dengan harga terjangkau saya booking. Bayar pake CC misua dan cetak pesanan. Nggak pake lama langsung kabarin misua dan tanya apa strategi  selanjutnya. ((kayak mau perang ajaaah)).

Sobat Piknik, saya dan mas bojo emang sering "pacaran" bareng di hotel. Yah, biar lebih fresh dan nggak ada yang ganggu. Lol. Cuma, kendala bisa pergi berdua tanpa digondeli krucil itu yang susah. Jadi sepulang dari kantor saya ketemuan ama misua di penitipan motor dan cuss ke villa pake mobil suami. 

Bagi yang ngelihat mungkin kami dikira pasangan selingkuhan, hahaha. Lha pake bawa kendaraan sendiri-sendiri gitu. Tapi ah biarin, ngga kenal inih. Lagian kami kan pasangan resmi, cuek laah. Dan cuss kami berangkat menuju Kaliurang.



Jalanan yang basah menandakan jika Kaliurang habis diguyur hujan. Ehmm, bakal adeeem ayem nih gaes. Yang dicarikan emang yang dingin-dingin empuk. AHAI.

Tak berapa lama kami sampai di Fuji Villa Kaliurang. Terletak di Jalan Pelajar No.8, Hargobinangun, Pakem, Hargobinangun, Pakem. Gampang banget kok nyarinya, lewat Jakal melewati pintu gerbang Kaliurang, sampai di bundaran lurus saja, kalau ke kanan menuju air terjun Tlogo Putri. Ya, didaerah villa-villa itu gaes.



Sesuai ekspektasi saya hotel ini berkonsep villa dengan rumah gaya tempo dulu. Bergaya Jepang sih, itu makanya namanya ada FUJI nya. Ada 5 kamar yang disewakan di Fuji Villa. Setiap kamar terpisah dan punya teras sendiri. Sukaaaak. Berasa villa pribadi dah. Harganya juga murah lho, saya pesen kamar yang paling murah dengan harga 350 ribu ajah udah include breakfast.



Ini dia kamar saya gaes. Canteeek kan. Bed empuk dengan hiasan kain putih bikin tambah romantis ((EHEM)). Ditambah cuaca dingin banget. Jadi deh adeknya Saka. Lol




Toilet dengan pemanas air membuat saya lega, ngga bakal kedinginan kalau mesti mandi disini. Sofa yang mirip kursi goyang ada di pojokan. TV layar datar dengan DVD Player ples beberapa DVD Film sudah disiapkan. Akhirnya kami malah lihat film. Ngga jadi bikin film sendiri #eh.


Singkat cerita, tugas saya selesai dan misua tepaaaar pemirsah. Hehehehe. Saya lanjut dah nonton film sampai magrib. Sebelum bertambah malam, saya mengajak misua pulang dan nanya ke dia, kita kembali ke sini bawa anak-anak atau enggak. Kalau langsung chekout kunci bakal saya kembalikan ke penjaga villa. 


Dipikir-pikir sayang juga kalau kami bayar ratusan ribu hanya untuk beberapa jam. Yawislah, kami turun dan setelah duo anak lanang makan malam kami kembali ke Fuji Villa Kaliurang dan menghabiskan weekend disini.


Dan kami berempat menginap di Fuji Villa. Karena kasur ngga cukup, kami memesan extra bed dengan tambahan biaya 100 ribu. Anak-anak seneng dan ngga kedinginan disini. Padahal dulu, jaman saya kuliah Kaliurang itu duiiingin banget. Mungkin bertambahnya bangunan ya bikin suhu lebih panas. 



Kami berencana Sabtu paginya jalan jalan ke Taman Kaliurang atau lihat air terjun Tlogo Putri. Sebelumnya sarapan dulu ama nasi goreng spesial dengan tambahan telor ceplok dan nugget. Kami dapat dua porsi. Rasanya lumayan enak. Kami sarapan di luar kamar. Ada meja marmer dan kursi kayu di taman. Enak banget lho, sarapan di taman sembari menikmati segarnya udara Kaliurang.


Perut kenyang kami jalan-jalan ke Taman kaliurang. Jalan kaki saja, karena jaraknya cuma 200an meter dari villa. By the way, menginap di Fuji Villa Kaliurang itu menyenangkan. kamarnya yang bersih, sarapan yang enak, fasilitas yang lumayan bikin betah. Mbak yang jaga juga baik kok, walaupun tidak berseragam seperti di hotel tapi orangnya ramah dan siap membantu.

Baca juga : Keseruan Staycation di Ibis Solo

Selain 4 kamar dengan ukuran superior ada satu kamar berukuran besar. Saya sempet intip intip, dan cocok banget buat yang lagi honimun lho. Lihat deh kamar dibawah.




Lebih luas dan lebih artistik dari kamar yang saya pesan kan. Pasti harganya juga lebih mahal. Saya juga berkeliling di rumah bagian tengah, kayaknya juga disewakan tapi untuk lebih dari 6 orang. Ada piano, mini perpustakaan yang bikin betah. 





Nah Sobat Piknik, jika kamu berencana menghabiskan liburan di Kaliurang kenapa ngga nginep disini saja. Lokasinya dekat banget sama obyek wisata di Kaliurang. Dan Saya jamin tidur angler dah, apalagi kalau sama ayank tercinta.


Baca juga : Tlogo Putri Kaliurang

So, jangan lupa piknik yaaa, biar nggak hectic. 

Thursday, 16 March 2017

Sejenak di Batu Paradise Hotel Malang



Langit masih gelap ketika bus memasuki wilayah kota Malang. Kutengok kanan dan kiri saya, duo anak lanang masih terlelap. Begitu juga dengan teman-teman kantor saya yang masih terbuai mimpi dengan balutan selimut yang disediakan pihak travel.

Baca Juga : Pengen Liburan Nggak Ribet? Pakai Jasa Travel Organizer Aja

Tak berapa lama terdengar adzan subuh dari beberapa masjid yang kami lewati. Sopir tanggap dan selang beberapa menit kemudian bus yang kami tumpangi berhenti di depan sebuah masjid. Satu persatu teman saya terbangun setelah guide memberi tahu jika kami sudah sampai di Malang dan mempersilahkan untuk sholat subuh.

Saya memanfaatkan waktu ishoma untuk ke belakang. Kebetulan duo anak lanang juga sudah bangun sekalian saya ajak pipis karena dari semalam belum ke toilet. Perjalanan hampir 8 jam tak membuat mereka rewel, semalam mereka bisa tidur angler walau agak dempet-dempetan karena kami bertiga cuma dapat jatah kursi dua. 
Setelah semua kembali ke bus, kami melanjutkan perjalan menuju hotel. Duo anak lanang sudah ngga bisa tidur lagi dan menikmati pemandangan di luar. 

"Sebentar lagi kita akan sampai di hotel, silakan mandi-mandi dan beristirahat. Jam 7 bisa sarapan di resto dan sekitar jam 8 diharapkan sudah berangkat menuju Prigen"

Mas Guide memberi tahu jika tak berapa lama lagi sampai dihotel. Saya mulai lega, karena kaki sudah pegel, ditekuk selama berjam-jam. Pengen segera bisa selonjor dan tiduran di hotel.



Akhirnya kami sudah sampai di hotel dan saatnya nyelonjorin kaki dan merem sebentar. Tapi, itu hanya impian. Sesampai kamar duo anak lanang malah loncat-loncat di bed dan minta cemilan. Rupanya mereka mulai lapar. 





Karena ngga bisa tidur, saya ajak keluar dari kamar dan keliling hotel saja. Udara dingin Malang lumayan menggigit, tapi dasar duo anak lanang suka hawa dingin mereka menolak saya pakein jaket.
Rupanya beberapa teman saya sudah nyemplung di kolam renang. Saya ngga beranilah, dingin euy. Duduk duduk di gasebo ajah.





Kami beristirahat di Hotel Paradise, Batu, Malang. Hotel bintang 3 dengan fasilitas lumayan lengkap. Sayang kami cuma transit, karena berangkat dari Bantul sudah terlalu malam. Next trip, Hotel Paradise bisa jadi pilihan saat piknik ke Batu, Malang.






Batu Paradise berada  di Jl Diponegoro nomor 6, Hotel Paradise, lokasinya strategis dan mudah diakses. Dekat dengan beberapa obyek wisata seperti Pasar Bunga, Taman Jatim, dan Pasar Bunga dan Sayuran. Dari bandara, hotel ini dapat dicapai dalam waktu 45 menit. Dengan lokasinya yang strategis ini, para tamu hotel dapat dengan mudah mengunjungi tempat – tempat wisata tersebut tanpa harus melakukan perjalanan jauh dari tempat mereka menginap. 




 Dari kolam renang saya beralih ke rooftop. Nggak nyangka ternyata viewnya cakep banget. Gunung Arjuna  terlihat jelas. Pantas udaranya dingin, ternyata memang dekat pegunungan dan bukit bukit.







Tepat jam tujuh, kami menuju ke restoran dan segera santap pagi. Menu khas Jawa Timur tersaji di meja saji. Pecel, nasi goreng, rawon, telur asin dan serta buah segar siap disantap. Karena duo anak lanang ngga doyan rawon, saya pesen telor ceplok ke pramusaji. Oalah le, ngga di rumah nggak di hotel menunya telor ceplok. Lol




Kebetulan saat saya ke sana berdekatan dengan Natal. pernik pernik Natal yang unik cocok banget lho buat selfi. Duo anak lanang ngga melewatkan poto poto dulu.

So far, Hotel Paradise nyaman untuk beristirahat. Dan speertinya untuk staycation pun ngga bakal bosan karena fasilitas lengkap. Jika kamu berencana ke Batu Malang, hotel ini bisa jadi pilihan. Harga terjangkau dan nyaman.

Friday, 10 March 2017

Karena Hutan Pinus Mangunan Terlalu Ramai, Kenapa Nggak ke Hutan Pinus Pengger Ajah?


hutan pinus pengger

                                                                                                                                                   
Sepatu kets saya terasa sangat lengket dan basah begitu kaki menjejak tanah merah. Ratusan pohon pinus menjulang menandakan kalau kami sudah sampai di hutan pinus. Saya edarkan pandangan ke sekeliling dan saya baru sadar jika  ini bukan Hutan Pinus Mangunan yang sering saya lewatin saat tugas keliling desa bersama teman kantor. 


































Tulisan Pinus Pengger yang cukup besar  di depan hutan meyakinkan saya jika kami memang salah tujuan. Rencana kami semula ke hutan pinus Mangunan di Dlingo, tapi sebelum sampai di Dlingo kami sudah berhenti. Biasanya saya ke Mangunan dari Bantul, ke arah Imogiri baru ke Mangunan. Karena saya dari utara sehingga Mas Bojo memilih ke Dlingo lewat jalan Wonosari. Melewati jalan Piyungan, setelah bukit cinta ada perempatan deket polsek kami belok ke kanan. Kata dia lebih deket lewat sini daripada lewat Imogiri karena kami dari arah utara. 

Pantas saja kok nyampenya cepet banget, belum sampai setengah jam kok sudah sampai hutan pinus. Ternyata ini Hutan Pinus Pengger, bukan hutan Pinus Mangunan. Hutan Pinus Pengger masih berada di wilayah Dlingo,tepatnya desa Terong. Desa di kecamatan Dlingo yang letaknya paling utara.

Hutan Pinus Pengger berada si sisi kanan jalan, kita bisa memarkir mobil di pinggir jalan atau masuk ke tempat parkir yang sudah disediakan. Jujur saya baru tahu tentang hutan Pinus Pengger ini, sebelumnya hutan Pinus Mangunanlah yang begitu terkenal oleh para wisatawan. Rupanya hutan ini juga belum banyak dikenal orang karena saat saya kesana masih sepi, hanya ada beberapa pengunjung. Pengunjung tidak ditarik retribusi masuk, hanya cukup bayar parkir kendaraan.






Duo anak lanang begitu bersemangat ketika melihat hutan. Mereka langsung mengajak saya naik ke area hutan. Berbagai pertanyaan seperti di hutan ada harimau nggak, boleh tidur sini ndak dan bla bla bla bla, cukup membuat saya lelah menjawab rasa ingin tahu mereka.

Pagi itu memang hujan baru saja reda, tak heran jika tanah merah itu basah dan lengket. Saya meminta anak-anak hati-hati dan selalu digandeng. Apalagi kami mengajak mertua yang harus jalan ekstra hati-hati karena tanahnya licin dan jalan menanjak.



































Kabut putih masih jelas terlihat. Suasana seperti di film-film gaes. Hutan pinus yang lebat, kabut yang melayang-layang dan udara dingin serta sesekali tetesan air membuat kami begitu menikmati suasana hutan pinus Pengger. Adem-adem seger gitu, bawaannya sih minta dipeluk. Lol.





Beberapa ayunan nampak menggelantung diantara dua batang kayu. Tanpa dikomando saya dan Mas Nathan segera berayun dan meminta Bapak mengayun kami. Suasana yang hening dan tidak begitu ramai cukup membuat kami nyaman. Sebel juga sih piknik pengen bersantai dan melipir mencari ketenangan tapi yang ada cuma riuh dan ramainya pengunjung. Yang ada cuma suk sukkan dan antri selfi gaes.



Puas berkeliling di hutan pinus kami berjalan ke arah pinggir hutan dan ternyata ada jurang cukup dalam. Kabut yang cukup tebal masih terlihat membuat pandangan terbatas, tapi malah bikin eksotis sih. Dari kejauhan saya melihat sosok anak muda yang sedang pose diatas batu. Wah, intagramble banget. Pengen deh selfi disana, tapi siapa yang motoin. Anak lanang ngga mungkin dibiarin sendiri. anyak batu dan ngga safety banget, Gimana kalau mereka lari lari dan nyemplung? Aw,aw,aw. Sepertinya saya harus menahan diri gaes. Nggak dapet poto kece no problem lah, yang penting duo anak lanang aman.






Sementara saya asyik berkeliling, mertua saya sedang duduk leyeh-leyeh di gasebo. Maklum lah usia yang tidak muda lagi pasti energinya terbatas. Piknik ya jalan-jalan sebentar habis itu beristirahat . Beberapa gasebo disediakan oleh pengelola untuk tempat beristirahat pengunjung. Warung-warung kecil juga sudah buka dan menyediakan berbagai makanan serta minuman, jadi ngga perlu kawatir gaes. Meskipun kalian tidak membawa bekal kita bisa kok menikmati mi rebus panas sembari menikmati semilir angin hutan pinus.




Ohya, banyak buah pohon pinus lho. Mas Nathan sibuk ngambilin buah pohon pinus yang bentuknya unik. Dia sedikit heran karena baru pertama itu melihat buah pohon pinus. Dia mengambil beberapa dan dimasukin tas plastik untuk dibawa pulang. Hahaha. Aneh yaa, kayak gitu ajah dibawa pulang. Tapi maklumlah, namanya anak kecil hal apapun bisa dijadikan mainan.




Kalau yang satu sibuk dengan buah pohon pinus yang mengering, adeknya sibuk pose-pose bareng si Bapak. Hahaha, mungkin yang satu ini pengen jadi model. Manut ajah di suruh pose berbagai gaya sama Bapaknya.  

Sebelum jam 12 kami memutuskan untuk pulang  karena masih ada beberapa tempat yang ingin kami kunjungi. Bukit Panguk serta Air Terjun Sri Gethuk sudah menunggu kami. Dan, bersyukurlah kami saat melewati Hutan Pinus Mangunan ternyata penuh banget. Mobil-mobil banyak yang antri untuk parkir karena tempat parkir sudah penuh. Halah kalau kayak gitu mah, piknik sama sekali enggak nyaman. Malah kayak orang mau antre sembako. Lol.


Jalan di depan mangunan



Nah Sobat Piknik, hutan pinus tak hanya ada di Mangunan. Coba deh ke Hutan Pinus Pengger. Sama kok cantiknya, nggak pake macet di jalan dan masuknya juga free. Jadi kapan mau ke sini?

Jangan lupa piknik biar nggak hectic dan salam prima.

Wednesday, 1 March 2017

Ziarah ke Gua Maria Sriningsih, Gua Maria Penuh Kenangan

gua maria sendang sriningsih


Salah satu tempat yang sering saya rindukan adalah Gua Maria. Di sana saya bisa sejenak menepi dari keriuhan dunia, melupakan kepenatan hidup dan memasrahkan diri pada Sang Pencipta.

Dari beberapa Gua Maria yang pernah saya kunjungi, Gua Maria Sriningsih atau Jali-lah yang paling saya rindukan. Saya lebih sering menyebut Gua Maria Sendang Sriningsih dengan sebutan Jali, nama desa lokasi  Gua Maria itu.

Gua Maria Sendang Sriningsih tak hanya sekedar tempat berdoa, tapi banyak kenangan tersimpan di tempat itu. Memori saat ikut retret pertama kali saat SMP. Tidur di joglo dalam udara dingin pegunungan, berkenalan dengan para senior mudika, hingga saya menjadi mudika dan aktif ikut misa tiap Jumat Kliwon. Berangkat bersama-sama mudika satu lingkungan. Kebersamaan saat mengamen untuk dana kegiatan, ataupun tugas koor di Misa yang diadakan di Gua Maria Sendang Sriningsih.

Kenangan persahabatan. Menempuh perjalanan dari Ceper ke Gua Maria Sendang Sriningsih, menembus malam, melawan dingin, bersama sahabat. Mengingat Jali membuat ingatan melayang. Potongan-potongan peristiwa silih berganti memenuhi otak. 

Atau disaat saya terpuruk. Sendirian. Sering saya duduk di joglo yang sepi itu sendirian. Berteman semilirnya angin pegunungan. Pohon beringin yang kokoh tinggi menjulang seolah menaungi saya dan Bunda Maria yang terdiam, menatap saya dengan kesedihan.

Waktu sangat cepat berlalu, masa berganti dan seolah saya tak ada kesempatan lagi berkunjung ke sana. Tempat favorit untuk "mojok", mendekati DIA, curhat, dan memohon sesuatu.

Hingga beberapa waktu yang lalu mimpi saya untuk datang lagi ke Gua Maria Sendang Sriningsih terkabul.  Lebih dari 5 tahun saya tidak kesana. Siang itu benar-benar menjadi obat kangen saya. Sekaligus mengenalkan anak-anak dan mengajak mereka berdoa.

Lokasi Gua Maria Sendang Sriningsih

Gua Maria ini terletak di desa Gayamharjo, Prambanan. Jalan masuk dari jalan Jogja-Solo yaitu di pertigaan Pandan Simping, ikuti jalan ke arah selatan sekitar 5-6 kilometer lagi.

Sejarah Sendang Sriningsih


Riwayat Sendang Sriningsih dimulai pada tahun 1934, ketika seorang Jesuit bernama D Hardjosuwondo SJ yang ditugaskan di Dusun Jali berkunjung ke sendang yang dulu masih bernama Sendang Duren. Terpesona oleh aura spiritualnya, ia kemudian membangun lokasi sekitar sendang itu menjadi tempat ziarah dan kemudian menamai ulang sendang menjadi Sendang Sriningsih, artinya perantara rahmat Tuhan pada umatnya.



Jalan menuju Gua sudah diaspal sejak lama, kita bisa me markir kendaraan di atas dan itu melewati beberapa perhentian Jalan Salib. Jika kamu berencana jalan salib, harus memarkirkan kendaraan di bawah. Saat Misa Novena atau saat Bulan Maria kendaraan dilarang naik, dan kendaraan parkir di lapangan. Jarak dari lapangan menuju perhentian pertama lumayan jauh, sekitar 2 kilometer.

Karena saya kesana pas  siang, kami bisa parkir hingga parkiran atas dan menitipkan kendaraan pada warga. Perjalanan ke Gua Maria bisa ditempuh hanya dengan jalan kaki ya. Harusnya mah jalan kaki dari perhentian pertama, tapi kami tidak berencana doa Jalan Salib hingga sengaja melewatkan beberapa titik perhentian.


Usai menitipkan kendaraan, kami bergegas naik. Keburu siang makin terik dan kasihan melihat duo anak lanang kepanasan. Jalan berundak siap menyambut kami. Ingatan saya melayang ke masa dulu, dimana saya dan teman-teman mudika sering iseng menghitung jumlah anak tangga dan sayangnya jumlah nya tidak pernah sama.

Gua Maria Sendang Sriningsih berada di atas bukit, diantara Bukit Ijo dan Mintorogo. Jika kalian berencana berziarah ke sini, siapkan badan ya dan jangan lupa air minum.



Setelah undakan  yang cukup membuat badan berkeringat kita sampai pada perhentian ke 6, jalan cor mulai tidak rata. Sepertinya sejak dulu memang belum diperbaiki.





Baru setengah perjalanan napas saya sudah kembang kempis. Duo anak lanang masih bersemangat walau kadang bertanya apakah masih jauh atau tidak. Pastinya saya menyemangati mereka donk. Ayo. Ayo. Meskipun saya sendiri sudah kepayahan.




Semakin ke atas jalan mulai mendatar, itu artinya sebentar lagi kami bakal sampai di Gua Maria Sendang Sriningsih. Beberapa tahun tidak ke sini ternyata banyak perubahan. Seperti toilet yang baru. Dulu jika pengunjung ingin ke toilet harus jalan lumayan jauh, toilet berada di bawah lereng dan gelap.





Yeay, akhirnya kami sampai di atas juga. Dua pohon beringin dan sulur-sulurnya masih berdiri kokoh. Hanya ada perubahan di lantai dan sendang. Sendang ditutup dengan beton, pengunjung bisa mengambil air dari sumur. Mas Bojo dan duo anak lanang segera mencuci muka. Air pegunungan yang dingin meleburkan kelelahan kami siang itu.





 
Usai mencuci muka kami duduk-duduk sebentar di joglo. Baru kemudian bergantian berdoa di depan patung Bunda Maria.  Ku curahkan kepenatan saya di sana. Melepas gundah dan berdevosi. Menziarahi kembali pengorbanan Tuhan Yesus yang rela wafat di kayu salib.

Menziarahi Bunda Maria, belajar menjadi pasrah dan berserah pada kehendak Allah.






Batoer Hill Resort, Best View Resort in Jogja

Saya tertegun melihat beranda Facebook saya beberapa minggu yang lalu. Pemandangan indah lereng pegunungan berselimut kabut menghip...