Saturday, 29 April 2017

Pesona Air Terjun Sri Gethuk Gunung Kidul


AIR TERJUN SRI GETHUK


Setelah melalui jalan kecil berkelok-kelok akhirnya kami sampai juga di tempat parkir air terjun Sri Gethuk. Untungnya GPS selalu memandu kami, meski perdebatan kecil dengan mas bojo beberapa kali terjadi. Lha gimana ngga adu mulut, petunjuk GPS  meminta kami belok kanan tapi papan petunjuk menuju ke air terjun Sri Gethuk malah mengarahkan kami untuk lurus.  Saya sebagai navigator ngarahin sesuai GPS donk, tapi doski malah manut papan petunjuk. Dan itu kejadian beberapa kali. Saya sih ngalah ajah yang penting kalau tersesat atau rute makin jauh jangan nyalahin saya ajah.

Perjalanan menuju Sri Gethuk cukup dekat, karena start kami dari Dlingo. Kami baru saja selfi-selfi di Jurang Tembelan Dlingo. Dlingo merupakan daerah paling timur selatan Bantul dan berbatasan dengan Gunung Kidul. Jadi ke Sri Gethuk dari Dlingo itu ditempuh sekitar setengah jam saja. Jika kamu dari Jogja, mungkin memerlukan waktu kurang lebih 1,5 jam.

Sobat Piknik, jalan menuju ke air terjun Sri Gethuk makin lama menyempit. Ketika hampir mendekati tempat parkir jalan dibikin searah karena memang hanya muat 1 mobil dan jalannya berbatu. Gronjal-gronjal asyiklah. LOL

Meskipun jalannya sempit tapi tempat parkir air terjun Sri Gethuk lumayan luas. Aspalnya terlihat masih baru dan kentara sekali jika untuk membangun tempat parkir, pengelola harus mengepras/memotong tebing/bukit.

Asal Mula Air Terjun Sri Gethuk

Sejarah nama air terjun yang memiliki 3 sumber mata air dari “Kedung Poh” , “Ngandong” , dan “Ngumbul” ini berasal dari nama “Sri Kethuk” yang adalah nama dari sebuah lokasi tempat buat nyimpan peralatan yang di miliki oleh raja jin yang merupakan penunggu dari Air Terjun Sri Gethuk. Kalau menurut cerita masyarakat olayen sendiri di kawasan wilayah air terjun yang eksotis nan indah ini tinggal sesosok raja jin yang bernama “Onggo Menduro” yang lebih sering di sebut Mbah Onggo. Si mbah Onggo sang raja jin ini rupanya menyukai kesenian dan bahkan beliau pun mempunyai peralatan gamelan. Peralatan gamelan tersebut yang bisa di wujudkan dan di gunakan oleh masyarakat dusun Menggioran melalui sebuah ritual khusus.

Jalan Sehat Dulu ya Sobat Piknik




Dari parkiran mobil hamparan sawah menghijau begitu memanjakan mata, terlihat parit kecil dan membuat saya bertanya-tanya, jangan-jangan air terjunnya sekecil parit itu. Hehehe.

Penjual aneka makanan  nampak berjajar di pinggir jalan. Cukup mengganggu konsentrasi juga karena pengen beli bakso tusuk tapi langsung dilarang Mas Bojo, Lha kan nanti mau ke sungai masak bawa makanan kotang katung. Lol. Yawis kami bablas dan ngga nglirik-nglirik sama bakul lagi.

Setelah berjalan lebih dari 200 meter dan si air terjun belum nampak batang hidungnya. Kata temen kantor yang berasal dari Gunung Kidul dan pernah ke air terjun Sri Gethuk semasa baru ditemukan 2 tahun lalu memang bercerita kalau menuju air terjun harus naik rakit atau berjalan di pematang sawah dengan resiko kepleset dan jatuh.




Belum terlihat tanda-tanda air terjun  di depan mata. Yang ada papan nama Air terjun Srigethuk yang berwarna ngejreng. Duo anak lanang pose dulu bareng si Bapak. Pake ngantri lho pemirsah karena pengunjung air terjun lumayan ramai.

Dari sini sungai besar mulai terlihat, tapi sebelum sampai di pangkalan rakit, kita harus jalan sehat lagi gaes. Lumayan, menuruni anak tangga jumlahnya puluhan. Mertua saya memilih beristirahat diatas dan nggak ikut turun ke sungai. Maklum tenaga sudah mulai berkurang dan Mamak istirahat di warung sembari menikmati kelapa bakar.





Sobat Piknik, jika kamu membawa balita alangkah  baiknya ketika menuruni jalan setapak si kecil selalu digandeng. Tidak semua tepian dilengkapi pegangan, jadi harus ekstra hati-hati. 

Musim hujan membuat aliran sungai Oyo cukup besar dan berwarna coklat karena banjir di hulu sungai. Di musim kemarau debit air lebih kecil dan berwarna hijau, tapi memang lebih asyik jika kayak gini. Airnya deras dan serasa di sungai besar.





Sebelum naik rakit menuju ke Air Terjun, kita harus beli tiket dulu. Ada dua jenis tiket, yang pertama hanya tiket naik rakit PP seharga Rp. 10.000 sedangkan untuk tiket seharga Rp. 35.000 pengunjung akan mendapatkan jaket pelampung, fasilitas kamar ganti serta pemandu jika ingin susur sungai.




Tempat wisata sekarang selalu ramai dikunjungi wisatawan, begitupun Sri Gethuk jadi mau naik rakit juga ngantri ya gaes. Padahal rakit yang dijalankan ada lima, tapi tetep ajah nunggu sampai kosong.




Jarak dari pangkalan rakit menuju ke air terjun ngga begitu jauh kok, paling sepuluh menit udah nyampe. Di air terjun penuh dengan manusia yang sibuk main air, karena saya memang tidak berencana masuk ke sungai , apalagi mandi basah di bawah air terjun jadi tadi beli tiket yang sepuluh ribu saja. Kebanyakan wisatawan dari jauh sih ditawarinya yang 35 ribu, karena saya turis lokal beli yang murah ajah. Hahahaha.







Air terjun Sri Gethuk tidak terlalu tinggi, tapi ada beberapa air terjun kecil yang mengalir dari sungai di atas. Selain menikmati guyuran air dari atas, beberapa pengunjung nampak asyik berenang di sungai. Tali tambang nampak melintang di atas sungai, sebagai antisipasi dan batas aman berenang.







Saya sendiri cuma lihat-lihat sebentar, duo anak lanang yang memang tidak terlalu suka air hanya berdiri memandangi orang yang main air. Saya juga agak ngeri berjalan menuju bawah air terjun, terlihat licin dan saya bawa balita. Mungkin jika saya solo traveling bakal nyemplung dah ke sungai.




Satu lagi tantangan yang patut kamu coba ketika berwisata ke air terjun Sri Gethuk, susur sungai saja dari air terjun menuju ke pangkalan tentunya ditemani pemandu ya. Seperti si mas yang mengikuti rakit saya ini.




Nah, mumpung weekend nih gaes piknik yuk ke Sri Gethuk, tapi jangan lupa baca petunjuk disana. Setelah jam 4 sore area Sri Gethuk sudah harus kosong. Jika kamu main airnya kelamaan hingga lebih dari jam 4 bakal ngga ada rakit yang bisa kamu tumpangi.





Air Terjun Sri Gethuk
Dusun Menggoran, desa Bleberan, Kecamatan Playen, Gunung Kidul



Thursday, 20 April 2017

Legenda Sumber Air Panas Candi Gedong Songo



"Buk, itu asap apa ya kok putih-putih" tanya Nathan, anak sulung saya.

"Disana ada sumber air panas Mas, ke sana yuk" Jawab saya

"Takut ah, Buk ntar Nathan kepanasan" Nathan enggan saya ajak ke bawah, sumber asap putih yang mengepul

"Nggak papa, cuma ada air panas kok, nanti Mas juga bisa lihat asap yang keluar dari tanah di balik bukit sana" Saya mencoba merayu Nathan supaya mau jalan menuju sumber air panas. 

"Nanti Ibuk ceritain cerita Raksasa yang menculik Dewi"

"Bener Buk?" Nathan excited mendengar ajakan saya

"Yuk, jalan"

"Oke, Buk" Saya lantas menggandeng tangan dia sedang Mas Bojo menggendong dek Saka

***

 




Siang itu, saya bersama tim hore meluncur dari kota Semarang menuju lereng Gunung Ungaran tepatnya di Dusun Darum, Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Setelah berpanas-panas ria selama sehari  semalam di kota Semarang kami memutuskan untuk pulang ke Jogja dan mampir dulu di Candi Gedong Songo.

Ohya gaes, pesona Jawa Tengah tak hanya Candi Borobudur tapi provinsi dengan ibukota Semarang ini juga punya Candi lain yang tak kalah indah yaitu Candi Gedong Songo.  Apalagi didukung  keindahan alam sekitar candi yang merupakan daerah pegunungan dan untuk menuju ke candi satu dan candi berikutnya dibutukan perjuangan extra keras. Yes, kamu perlu mendaki  lereng Gunung Ungaran sembari meilihat jajaran pohon pinus yang menghijau.

Jika kamu berasal dari luar Jawa Tengah, paling dekat sih naik pesawat turun di Semarang. Dari Semarang tinggal sewa mobil ke Ambarawa.

Di musim liburan obyek wisata Candi Gedong Songo dipadati oleh pengunjung, salah satu kerepotan selain jalan menanjak dengan kemiringan hampir 40 derajad adalah susahnya mencari tempat parkir. Bus besar parkir di parkir bawah dan pengunjung bisa naik menggunakan ojek, jika membawa mobil sendiri bisa parkir sampai atas tapi sopir harus ekstra hati-hati karena bakal sering berhenti pas  ditanjakan karena menunggu dapat tempat parkir.  Jadi pastikan mobil kamu benar-benar fit  berikut sopirnya, jangan sampai salah kopling dan bikin kampas kopling kamu terbakar.



Perjalanan Menuju Candi Gedong Songo



Perjalanan dari Semarang ditempuh dengan jarak sekitar 1,5 jam, kalau dari Jogja mungkin sekitar 4 jam perjalanan. Candi Songo berada diatas daerah Bandungan, jadi saat turun  bakal melewati pasar Bandungan yang rame dengan penjual bunga di tepi jalan.






Tiket masuk ke obyek wisata Bandungan cukup terjangkau, perorang hanya Rp. 7500,- Di sepanjang jalan menuju ke atas banyak penjual mendoang panas yang cukup menggoda. Saya memutuskan untuk beristirahat sebentar di pendopo sembari menyuapi anak lanang. Karena memang sudah jam makan siang. Cuaca yang dingin dan sejuk  langsung terasa. Baju panjang sebagai dobelan saya pakaikan ke duo anak lanang. Karena mereka nggak mau pake jaket.  Tak lupa saya mengolesi perut mereka dengan minyak dulu.






Sobat Prima, kompleks candi ini dibangun pada abad ke-9 Masehi. Gedong Songo berasal dari bahasa Jawa, “Gedong” berarti rumah atau bangunan, “Songo” berarti sembilan.  Candi ini diketemukan oleh Raffles pada tahun 1804 dan merupakan peninggalan budaya Hindu dari zaman Wangsa Syailendra abad ke-9 (tahun 927 masehi).

Walaupun namanya Candi Gedong Songo, tapi candi yang ditemukan hanya berjumlah lima.  Komplek candi ini terdiri atas sembilan buah candi, yang berderet dari bawah ke atas yang dihubungkan dengan jalan setapak bersemen. Satu bangunan Candi yang berada dipuncak paling tinggi disebut puncak Nirwana. 


OKe gaes, simak perjalanan berkeringat kami yaaaaaa,




Jika kamu suka berkuda dan berani naik kuda, sok atuh naik kuda ajah, lebih cepet nyampe atas dan nggak capek.  Tapi, duo anak lanang belum berani naik kuda ya sudah kami jalan santai sambil nyanyi naik naik ke puncak gunung. LOL. Tarif naik kuda bisa ditawar kok, tergantung kamunya mau sampai puncak candi ke berapa. Kalau sampai candi terakhir kayaknya wisatawan dikenakan bea Rp. 150.000. Lumayan nyedot ongkos juga sih. Jalan waelah biar sehat. #emakkudungirit.







Perjalanan menuju candi pertama sih masih landai landai aja. Ada taman dengan rerumputan hijau, disana  banyak yang menyewakan tikar. Bagi yang males naik atau nggak kuat, cukup bersantai disini sambil menikmati pemandangan di bawah udah cukup indah lho. 







Gunung Ungaran samar-samar terlihat karena kabut mulai turun. Saya mengajak mas bojo dan duo anak lanang bergegas, takutnya terjebak kabut diatas atau malah turun hujan. Bagi anak lanang itu kali pertama mereka harus hiking lumayan jauh. Harapannya sih mereka ngga minta gendong.







Candi Gedong I berbentuk persegi panjang yang tidak terlalu besar, berdiri di atas batur atau kaki candi setinggi 1 m dengan pahatan relief sulur dengan bunga padma , didalamnya hanya ruang kosong tanpa relief sedang bagian luar dipahat sederhana dengan gambar bunga sederhana.






Perjalanan menuju candi II lumayan menghibur alias bikin keringetan. Anak lanang sempat minta berhenti minta minum. Capek kata dia. Tapi kami tetap jalan terus. Pemandangan di sekeliling  membuat kami sedikit melupakan rasa lelah. Pohon pinus berjajar rapi di kanan kiri jalan. Ada beberapa perangkat untuk outbond dan sepertinya memang ada paket wisata outbond juga disini.





Candi II mulai terlihat dan membuat kami lega. Setelah berjalan selama 20 menit dengan ngos-ngosan ternyata kami sampai juga di Candi II.





Candi gedong II berdiri diatas sebuah batur yang berbentuk bujur sangkar dengan luas 2,2 m persegi dan tinggi 1 meter. Pada bagian atas batur memebentuk selasar dengan lebar setengah meter yang mengelilingi candi. Pada badan candi dibagian sisi luar di ketiga dindingnya terdapat ceruk kecil sebagai tempat untuk meletakan arca. Ceruk ini dihiasai dengan dua kepala naga pada bagian bawahnya dan kalamakara pada bagian atas. Di bagian luar ceruk dihiasi dengan pahatan pola kertas tempel. Sedang bagian atas candi hanya terlihat reruntuhannya saja. Dibagian depan candi terdapat sebuah reruntuhan bangunan candi kecil yang dikenal dengan nama candi perwara yang memiliki fungsi seakan-akan sebagai penjaga


 



Perjalanan dari Candi II menuju Candi III lebih dekatlah daripada dari Candi I ke II. Jalan juga lebih rata karena rute pejalan kaki dan kuda sudah mulai sama. Kita bakal sering berpapasan dengan kuda. Hal itu yang kadang bikin perjalanan tersendat, duo anak lanang takut kuda #elapkringet.








Candi gedong tiga merupakan sebuah kelompok candi yang terdiri dari 3 buah candi besar. 2 buah candi besar menghadap ke timur dan terlihat seperti candi kembar dan berbentuk seperti candi gedong II. Disamping pintu mamsuk 2 candi ini terdapat relung yang berisi arca Siwa denagn posisi berdiri dengan gada panjang di tangan kanannya. Sedangkan sebuah candi yang lainnya menghadap ke arah barat dengan ukuran yang lebih kecil. Candi kecil ini diperkirakan berfungsi sebagai tempat penyimpanan. Pada dinding candi utama terdapat relung yang berisi arca Ganesha dan Durga bertangan 8.







Lokasi ini cocok lho untuk photo prewedding, pas saya ke sana juga ada sepasang calon manten yang sedang menjalani sesi pemotretan. Kalau saya kok mikir mikir yaaa, mau foto-foto pake kebaya tapi jalan kaki kauh banget. Namanya perjuangan kali yaaa. J







Candi IV terlihat dari kejauhan dan kami memutuskan untuk tidak kesana karena kabut mulai turun. Jam sudah menunjukkan pukul dua, jalan menuju ke Candi IV dan V paling enggak embutuhkan waktu 1 jam karena jaraknya masih lumayan jauh dan menanjak. Kami memutuskan untuk ke sumber air panas yang letaknya di bawah Candi III. Pengennya sih berendam air panas tapi ngga jadi karena ga bawa baju ganti.







Asap mengepul sudah terlihat begitu kami menuruni jalan kecil dari Candi III. Asap belerang lumayan menusuk hidung dan membuat kami harus menutup hidung. Ada kolam dan pengunjung bisa berendam. 




Semula Nathan merasa enggan untuk jalan menuruni bukit menuju kolam rendam air panas Candi Gedong Songo. Tapi setelah saya rayu dan saya janjikan untuk menceritakan legenda asal mula sumber air panas itu dia bersedia.


Legenda Sumber Air Panas


Menurut cerita rakyat setempat Gunung Ungaran tempat Candi Gedong Songo ini berdiri dahulu kala digunakan oleh Hanoman untuk menimbun Dasamuka dalam perang besar memperebutkan Dewi Sinta. Seperti diketahui dalam cerita pawayangan Ramayana yang tersohor itu Dasamuka telah menculik Dewi Sinta dari sisi Rama, suaminya. Untuk merebut Sinta kembali pecahlah perang besar antara Dasamuka dengan bala tentara raksasanya melawan Rama yang dibantu pasukan kera pimpinan Hanoman. 



Dasamuka, raksasa yang memiliki 10 wajah

Syahdan dalam perang tersebut Dasamuka yang sakti tak bisa mati kendati dirajam berbagai senjata oleh Rama. Melihat itu Hanoman yang anak dewa itu kemudian mengangkat sebuah gunung untuk menimbun tubuh Dasamuka. Jadilah Dasamuka tertimbun hidup-hidup oleh gunung yang kemudian hari disebut sebagai gunung Ungaran. Dasamuka yang tertimbun hidu-hidup di dasar gunung Ungaran setiap hari mengeluarkan rintihan berupa suara menggelegak yang sebenarnya berasal dari sumber air panas yang terdapat disitu. Sumber air panas yang mengandung belerang itu sendiri akhirnya menjadi tempat mandi untuk menghilangkan beberapa penyakit kulit. 
Pada masa hidupnya konon Dasamuka gemar minum minuman keras hingga siapapun yang datang ke Gunung Ungaran dengan membawa minuman keras akan membangkitkan nafsu Dasamuka. Mencium aroma miras erangan Dasamuka makin menjadi-jadi, ditandai sumber air panas makin menggelegak. Kalau sampai tubuh Dasamuka bergerak-gerak bahkan bisa menimbulkan gempa kecil. 


Puas melihat asap mengepul, kami memutuskan untuk segera pulang, takut kesorean dan perut sudah kerongcongan minta diisi.  Perjalanan pulang tak terasa begitu berat karena tidak mendaki. Banyak penjual aksesoris di sepanjang jalan. Begitupun dengan warung warung yang dipadat pengunjung. Kamipun makan sate kelinci yang merupakan makanan khas daerah pegunungan.





Sobat Prima, jika anda berencana untuk berwisata ke Jawa Tengah  obyek wisata Candi Gedong Songo bisa jadi satu pilihan. Selain belajar sejarah, mengenal candi, kita juga bisa menikmati keindahan serta sejuknya alam di  lereng gunung Ambarawa. 

***

"Ibuk, aku ngga mau jadi jahat kayak Dasamuka" 

"Kenapa Mas?"

"Nanti ndak dikubur Hanoman di tanah"

"Makanya jangan nakal dan jadi anak baik, biar Hanoman nggak marah ya"

"Oke Buk"



Perjalanan menuju Jogja diwarnai dengan pertanyaan yang tak henti-henti dari Nathan tentang Dasamuka, Hanoman, Wayang dan Gunung hingga dia terlelap karena kelelahan.

Ambarawa jauh tertinggal, seiring menghilangnya kabut dari pandangan mata. Senja itu kami pulang membawa kenangan akan indahnya Candi Gedong Songo sekaligus nilai kehidupan dari legenda Dasamuka dan Hanoman.

Piknik bukan sekedar menghabiskan waktu di hari libur, tapi bagaimana kita menikmati alam ini, sendirian atau bersama keluarga. 

Selamat piknik Sobat Piknik, besok long weekend tuh, yuk kita piknik ke Jawa Tengah.

” Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Legenda pariwisata Jawa Tengah 2017 yang diselengarakan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah”

Thursday, 6 April 2017

Ada Buto Ijo di Taman Kaliurang




Hujan deras semalam menyisakan tanah basah dan titik titik air di rerumputan. Duo anak lanang sedang asyik bermain diayunan ketika mbak penjaga villa mengantarkan dua piring nasi goreng serta kue dan teh hangat bekal sarapan kami.

Ehm, pas banget nih, Abis mandi, perut mulai lapar dan sarapan datang. Serasa gayung bersambut. Tanpa menunggu lama saya segera ke taman dan mengajak suami dan anak-anak sarapan.  Ohya Sobat Piknik, beberapa pekan yang lalu kami menghabiskan akhir mingu di Kaliurang. Menginap di Fuji Villa Kaliurang, review villanya sudah saya post sebelum ini.

"Ibuk ayo jalan-jalan lihat gunung" Teriak si mas, anak sulung saya.

"Ya, ke taman bermain saja ya, nanti gunungnya kelihatan" Kata saya

"Okee Buk"


***


Saya berempat bergegas menuju jalan kecil di depan villa.  Udara sejuk semakin terasa begitu kami sampai di jalan. Saya memang berencana untuk jalan-jalan pagi keliling villa dan membawa anak-anak bermain di Taman Kaliurang. Kami sering ke Kaliurang tapi Taman Kaliurang selalu terlewatkan. Fokus kami hanya ke Tlogoputri dan hunting Jadah Tempe di sekitaran Kaliurang.
Jarak dari Fuji Villa ke Taman Kaliurang tidak begitu jauh, mungkin sekitar 300an meter, tapi karena jalannya menanjak ngefek keringetan juga kami. Villa - villa dengan gaya arsitektur Belanda nampak di kanan kiri.  Beberapa bangunan  nampak tidak terawat dan ditinggalkan penghuninya. Sayang banget, seandainya dirawat dan di rehab tanpa mengubah bentuk pasti bagus dan bisa disewakan seperti Fuji Villa. Tapi, ngelihat villa kotor gitu bikin horor juga, jangan-jangan ada Danuuuuuur. lol



Kami berpapasan dengan beberapa jeep yang mengantarkan penumpang dari Kaliurang menuju kawasan Kaliadem. Ehm, nampaknya asyik gaes. Kayaknya next time perlu nyoba nih Lava Tour di sana.




Hore, sampailah kami di Taman kaliurang, kta teman saya sejak dia kecil Taman Kaliurang ini sudah ada berarti taman bermain di Hargobinangun Kaliurang ini sudah berumur lebih dari 15 tahun.Seinget saya tiket masuk sebesar 10 ribu rupiah. Di dalam taman ada beberapa wahana dan pengunjung akan ditarik retribusi lagi.







Patung beraneka bentuk menarik perhatian duo anak lanang. Dari aneka hewan seperti gajah, jerapah, rusa hingga beberapa patung yang menceritakan tentang Legenda Buto Ijo. Mas tertarik dan saya terpaksa mendongeng dah disana :(.






Layaknya Taman Bermain lainnya, disini juga ada ayunan, perosotan, dan mainan lain. Tapi sayang, semuanya sudah tua. Bahkan ada beberapa ayunan yang lepas besinya. Tapi duo anak lanang tetep hepi sih mainan perosotan yang udah jadul banget kayak gitu.






Taman Kaliurang cukup luas. Ada padang rumput hijau, dan gasebo untuk beristirahat.  Kayaknya asyik piknik disini, bawa tikar dan makanan. Terus anak-anak diumbar biar pada lari-larian di rerumputan. Anak-anak kan suka bermain di lahan terbuka.  Ciyus saya bisa bersantai sambil tiduran diatas tikar sambil memandang langit biru. Hahahaha, yang ada saya harus teriak-teriak agar duo anak lanang ngga main terlalu jauh atau malah mengejar mereka karena malah naik tangga gajah. Pusing euuy.








Karena inpian untuk bersantai pupus sudah, cuss keliling Taman Kaliurang saja atau oubond. Banyak permainan ala-ala outbond gitu, dan setiap permainan kamu harus membayar tiket lagi. Sayang, waktu saya kesana kok tidak ada penjaganya, beberapa wahana terlihat kayunya mulai keropos dan tidak layak. Ehm? Gimana nih apa tidak ada dana rehabilitasi atau renovasi, kan pengunjung bayar lho.






Sobat Piknik, walaupun  banyak yang haris dibenahi dari Taman Kaliurang  tapi Taman Kaliurang ini masih menjadi tempat field trip dari anak-anak TK dan SD. Terbukti dari banyaknya bus yang membawa rombongan dari beberapa TK.  Mereka juga terlihat menikmati taman ini, semoga ke depannya Taman Kaliurang bisa menjadi taman bermain yang tak hanya indah tapi edukatif n safety.



Selamat piknik,

Batoer Hill Resort, Best View Resort in Jogja

Saya tertegun melihat beranda Facebook saya beberapa minggu yang lalu. Pemandangan indah lereng pegunungan berselimut kabut menghip...