Sri Tanjung, Mengantar Kami Menuju Banyuwangi





"Buk, 2  hari lagi ya kita naik kereta?" Sambil menunjukkan dua jarinya anak lanang bertanya berapa hari lagi kami naik kereta api. Itu sudah keberapa puluh kali dia menanyakan hal yang sama. Rupanya tak hanya saya yang excited berangkat ke Banyuwangi naik kereta api. Duo anak lanang pun sudah tak sabar piknik dan menikmati moda transportasi kesukaan anak-anak itu.




Sobat Prima, beberapa waktu yang lalu saya sekeluarga berwisata ke Banyuwangi. Kereta api menjadi pilihan kami dengan beberapa pertimbangan sebelumnya. Menggunakan pesawat jelas nggak mungkin karena mahal ((emak ngirit)) dan sepertinya dari Jogja ke Banyuwangi juga belum ada rutenya (koreksi jika salah ya). Pilihan kedua dengan mengendarai mobil juga ditolak oleh mas bojo. Jarak terjauh dia menyetir sendirian paling sampai Jakarta, itupun keliling-keling di kota saudara saya yang menggantikan doi menyetir. Jarak Banyuwangi-Jogja jauh banget gaes.




Saat ke Bali beberapa waktu yang lalu dari Klaten sampai Banyuwangi membutuhkan waktu kira-kira 19 jam. Tentunya dengan beberapa kal rehat, maklum kami bawa bocil. Pilihan ketiga naik kereta api Sri Tanjung, harganya murah cuma Rp. 94.000,- dan nyaman. Yes, kereta ekonomi sekarang bukanlah kereta ekonomi yang dulu. Identik dengan penjual asongan, sesak, kotor, toilet tak ada airnya dan rawan kecelakaan. Kereta ekonomi sekarang sudah berAC, selalu bersih, aman karena ada polisi yang dalam waktu tertentu berkeliling gerbong, toilet bersih, air mengalir lancar dan dilengkapi tisu serta sabun cair.

Akhirnya hari H datang. Sabtu pagi jam setengah 6 kami sudah berangkat dari rumah menuju Stasiun Lempuyangan. Kami berencana menitipkan kendaraan di penitipan motor di dekat stasiun. Kami memilih membawa motor saja. Karena kami tidak tahu ada penitipan mobil yang bisa menginap berhari-hari atau tidak. Dan menghindari resiko mobil lecet atau tergores. Di depan stasiun Lempuyangan ada beberapa penitipan motor. Sampai di stasiun ternyata penitipan motor yang bisa nginep penuh semua, akhirnya kami harus merayu salah satu penitipan buat nyeselin satu motor aja dan berhasil. Yeay. Ohya, bea nitipin motor di dekat Stasiun Lempuyangan cuma 12 ribu, selama 4 hari. Murah banget!




Selesai urusan titip menitip kami bergegas masuk ke  stasiun Lempuyangan. Sementara saya check in dengan mencetak tiket, si Bapak ke ATM bersama duo anak lanang. Pastikan kamu selalu membawa uang cash saat bepergian. Tapi jangan terlalu banyak juga, bawa secukupnya saja.




Ohya, tiket yang kita beli dari minimarket atau travel agent belum bisa langsung digunakan ya. Sebelum naik kereta kita harus check in dulu di check in counter. Akan ada seperangkat PC berikut printer. Kita tinggal memasukkan kode booking di layar. Biasanya layar PC di stasiun touchscreen. Atau bisa menscan kode garis hitam putih ditiket dan otomatis akan terbaca. Selanjutnya printer akan mencetak tiket. Nah tiket itulah yang kita gunakan masuk ke ruang tunggu stasiun dan didalam kereta nantinya.




Setelah tiket tercetak saya segera menyiapkan SUKET ( (dudu suket teki lho yo)) karena EKTP saya hilang. Kartu keluarga sebagai kartu pengenal duo anak lanang dan KTP mas bojo. Antri di pintu masuk dan petugas mengecek tiket serta ID Card kami. Petugas memberi stempel pada tiket dan mengembalikan tiket tersebut kepada kami. Segera saya masukkan tiket ke dalam tas dan bergegas menuju ruang tunggu .

Ruang tunggu stasiun Lempuyangan belum begitu ramai, karena memang masih pagi banget. Duo anak lanang berlarian menuju gerbong. Saya harus sedikit berteriak agar mereka mengurangi kecepatan lari mereka dan harus menyebrang rel. Gerbong kereta api Sri Tanjung berada di jalur dua, jadi kami harus melewati satu rel dulu.



Gerbong masih sepi saat kami masuk ke dalam kereta. Kami mendapat gerbong 1 jadi ada di paling ujung di sebelah timur. "Mana buk tempat duduknya?" tanya anak lanang. Sambil melihat kanan kiri saya mencocokkan kode angka dan huruf yang tertera di tiket dengan kode tempat duduk. Kami memesan 4 tempat duduk, pas satu-satu. Ohya Thanks mbak Vicky Laurentina ( vickyfahmi.com) yang sudah membantu kami reservasi tiket kereta api dan booking hotel. ((dapat harga murah lho))



Pukul 06.50 kereta api berangkat. Terdengar himbauan dan larangan selama di kereta. Wah, macam naik pesawat saja ya. Ada beberapa hal yang dilarang saat naik kereta api :

1. Dilarang merokok, dan jika ketahuan akan diturunkan di stasiun terdekat (larangan ini berulang kali diputar)
2. Membawa tiket dan duduk sesuai nomor
3. Duduk atau tiduran di lantai (yaelah, padahal saya sudah bawa koran, rencana buat selonjoran dibawah. Udik banget eike.)
4. Telah disediakan tempat sampah di cantolan dekat kursi, dilarang membuang sampah sembarang

Himbauan dalam bentuk audio itu tak hanya diputar sekali, berkali-kali hingga puluhan mungkin. Pemberitahuan akan perhentian selanjutnya juga selalu diputar, sehingga penumpang bisa bersiap-siap untuk turun. Himbauan dan pengumuman disampaikan dalam dua bahasa, yaitu Inggris dan Indonesia. Maklum, banyak bule juga yang naik kereta. Tentunya agar informasi bisa diterima penumpang dengan baik, entah itu penumpang domestik maupun asing.




Perjalanan dari Jogja menuju ke Banyuwangi ditempuh sekitar 14 jam. Berhenti di hampir 30 stasiun sepanjang Jogja, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kereta berhenti cukup lama di stasiun Gubeng Surabaya. Penumpangpun banyak yang turun disini tapi dalam sekejab terisi penuh lagi. Ohya, sampai di Stasiun Gubeng Surabaya kereta ganti lokomotif, pas berangkat tadi lokomotif ada di depan dan gerbong saya ada di urutan terdepan, tapi pas menuju Banyuwangi gerbong saya berada di urutan terakhir.



By the way, berada di dalam kereta selama hampir 14 jam bukan hal yang sama sekali menyenangkan apalagi bagi anak kecil. Jemu, kaki pegel dan lelah. Tapi, bagi saya yang punya bodi ndableg naik kereta selama itu fun-fun aja. Begitupun duo anak lanang yang masih berusia 4 dan 6 tahun. Nggak ada keluhan capai, hanya di jam-jam terakhir anak bontot mulai protes kok nggak nyampe-nyampe dan pengen bobok hotel.



Mungkin ada yang pengen tahu apa saja yang harus dibawa dan diperhatikan saat bepergian menggunakan kereta dalam waktu yang lama bersama anak-anak.  Sebenarnya tidak berbeda jauh dengan road trip menggunakan mobil, hanya kita dituntut untuk tidak membawa barang terlalu banyak karena bakal kerepotan membawanya. Beda saat bawa kendaraan sendiri, semua barang bisa ditumpuk di mobil. Pengalaman saya sih, mobil berubah jadi tempat sampah dan penuuh barang :D

1. Membawa ID card seperlunya, artinya tidak semua kartu identitas saya bawa. Cukup KTP dan beberapa ATM. Takutnya jika dompet hilang dan semua kartu serta surat penting ikut hilang semua. Bagaimanapun menggunakan angkutan umum lebih rawan daripada naik mobil sendiri.

2. Karena perjalanan jauh jangan lupakan cemilan dan minuman terutama kesukaan si kecil. Kemaren saya bawa satu ransel kecil isinya makanan dan minuman semua. Saya juga membawa bekal nasi untuk sarapan tapi anak lanang menolak makan. Memang sih, dulu pas ke Bandung bawa bekal sendiri juga rasanya kok nggak nikmat, mending berhenti di warung makan dan menikmati makanan yang fresh. Alternatif saat di kereta bisa beli makanan yang disediakan pihak kereta api. Banyak menu makanan dari nasi goreng, nasi ayam, mi goreng, nasi pecel, popmi dan bakso instan.

3. Agar tidak bosen bawa novel, gadget dan mainan si kecil. Percayalah, 14 jam itu tidak sebentar.

4. Bawa bantal leher agar kepala tidak pegel saat tiduran/bersandar. Bisa juga sewa bantal di dalam kereta  jika nggak mau repot bawa sendiri.


Langit mulai gelap begitu memasuki kawasan Bangli. Gerbong masih penuh, mungkin masih 3/4 penumpang yang masih menunggu kereta sampai di stasiun  yang mereka tuju. Jam menunjukkan pukul 6 sore, titik titik air membasahi jendela. Rupanya Jember mulai gerimis. Udara juga makin terasa dingin, saya merapatkan jaket dan berusaha memejamkan mata. Rupanya mata tak bisa terpejam.

Saya melirik anak muda yang duduk diseberang kursi. I Phone terbaru menarik perhatian saya, apalagi yang memegang smartphone ekslusif itu masih muda belia. Saya penasaran, kira-kira dia masih kuliah atau kerja ya, tentunya dia anak orang kaya lha handphonenya seharga 18an juta (duet kabeeh?).

Cus deh saya ajak ngobrol cowok yang bernama Aji. Asli dari Tangsel dan kerja di Dubai. Sendirian dia traveling dari Jakarta, mampir Pemalang, Jogja, Surabaya dan berakhir di Banyuwangi. Entah mungkin dia bakalan bablas ke Bali juga. Dia mendapat cuti selama sebulan dalam satu tahun. Hotel bintang 7 menjadi tempat kerja dia sehari-hari. Mau tahu berapa harga sewa per kamar di hotel itu? Sekitar 55 juta per malam. Alamaaaaaak. Gaji setahun itu mah. LoL. Dia lulusan pariwisata di kampus Petra, dan sudah pindah-pindah di beberapa hotel, seperti di Maldives. Ehm, asyik ya. Kenapa dulu saya nggak pernah kepikiran kuliah di pariwisata aja. :D

Btw, saya kepo donk berapa gajinya. Eh, dia nggak ngaku. Kata dia cukuplah, gitu. Iyes, gaji saya cuka cukup. Tapi cukup buat beli hape siomey bukan aiphone terbaru. :D

Naik kereta itu asyik lho, bisa bertemu banyak orang. Berbagi apapun. Termasuk makanan.

Jam setengah 9 malam kereta sampai di stasiun Karangasem, kami nggak jadi turun di Banyuwangi Baru, stasiun terakhir karena sudah janjian dengan Mas Andre pemilik rental motor.  Berdasar referensi Alan Nobita pemilik blog alannobita.com saya janjian sama mas Andre di stasiun Karangasem. Rencana untuk sewa mobil diganti sewa motor karena tempat wisata yang kami tuju ternyata dekat dari hotel.



Nah, mau tahu cerita piknik kami selama di Banyuwangi? Tunggu postingan selanjutnya yaa. Doakan saya tidak malas untuk segera update. Lol.



Comments

  1. Bener mbak, keraaanya itu jam2 mau nyampe, tp ga sampe2 :D
    Masih berhenti di beberapa stasiun lagi.

    Buat ngatasi kebosanan, apalagi anak2 penting buat bawa buku atau mainan. Apalagi 14 jam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dipake tidur mas, atau ngemil, hehehe.

      Delete
  2. Iya mbak, naik kereta skg sdh jauh lebih baik dari sebelumnya, anak saya kalo naik kereta suka jalan2 di gerbong...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu salah satu kelebihannya naik kereta, bisa jalan-jalan kalau naik bis atau mobil kan bisanya cuma duduk sampai pegel.:D

      Delete
  3. Seru ya naik kereta... Dulu jav naik kereta bandung-jogja, jalan2 terus di dalem krn bosen heuheu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, anakku kemaren juga malah lari2an di gerbong, apalagi dapet temen baru, udah ditegur berkali2 biar nggak wara wiri takut menganggu penumpang lain, tapi malah banyak org yg godain mereka.

      Delete
  4. Aku belum pernah ke Banyuwangi, Mbak Primaaa.. kayanya seru banget ya perjalanan naik KA ke sana.

    Hahaha, sama, kita #TimPengenLesehan kalo di kereta. Ini kebiasaan jaman kecil dulu kalau naik KA Bengawan Jakarta-Klaten pasti Mama ku sangu koran bekas buat tidur di kolong.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha..kenangan tak terlupakan ya mbak naik Bengawan itu, uyel2an dan bisa lesehan kayak di malioboro :D

      Delete
  5. Banyuwangi emang lagi hits banget kak. Btw pengalaman naik kereta bawa anak umur 2 tahun memang butuh tenaga ekstra. bawaannya lari mulu. hahaha

    ReplyDelete

Post a Comment

Jangan lupa komentar yaa Sobat Piknik